Masyarakat Lingga minta kebun sawit segera dibuka

id Sawit Lingga

Sejumlah warga Lingga mengunjungi areal perkebunan sawit di Provinsi Riau. (IST)

Lingga, (Antaranews Kepri) - Setelah melakukan kunjungan studi banding kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT Surya Dumai di Kampar Provinsi Riau, sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan desa di Kabupaten Lingga menginginkan agar proyek perkebunan kelapa sawit di Lingga segera dimulai.

Dalam rilis dari manajemen PT Citra Sugi Aditya (CSA), Kamis (10/1/2019) itu diungkapkan, selama mengikuti studi banding, masyarakat Lingga menyaring pengalaman dari para petani sawit plasma PT Surya Dumai.

Di antaranya paparan dari Zukri, Ketua Koperasi KOPTI Tama Luku Intan, Desa Danau Lancang Indah Kampar Riau. Dari keinginan masyarakat untuk meningkatkan penghasilan. Maka, mereka pun memulai menjadi mitra PT Surya Dumai di bawah payung Koperasi Unit Desa (KUD) Danau Lancang Indah (KOPTI).

"Sebelum ada perkebunan sawit, keadaan ekonomi masyarakat sangat memperihatinkan, terutama Desa Danau Lancang, yang dominan penghasialan masyarakat setempat adalah nelayan. Apalagi akses jalan Desa Danau Lancang saat itu belum dapat ditempuh dengan jalan darat," tutur Zukri.
 
Saat itu, lanjut Zukri, akses masyarakat ke kota masih menggunakan jalur laut dan sungai. Untuk menuju ke kota sampai berjam-jam menunggu kapal atau perahu yang lewat di perairan Sungai Desa Danau Lancang Indah. 

"Dan saat Pemilu Legislatif maupun Pilkada, petugas harus naik helikopter untuk untuk membawa logistik pemilu," kenang Zukri lagi.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan semangat kerja keras masyarakat Desa Danau Lancang Indah, keadaan mulai berubah ke arah lebih baik.

 Apalagi, saat PT Sumber Arum Makmur masuk membuka perkebunan kelapa sawit. 

"Alhamdulillah dengan masuknya PT Sumber Arum Makmur tersebut, dibukalah akses jalan yang dimiliki perusahaan digunakan oleh masyarakat Danau Lancang Indah," tambah Zukri lagi.

Memang, awalnya masyarakat Desa Danau Lancang Indah tidak mengerti bisnis perkebunan kelapa sawit. Maklum, profesi asal mereka adalah nelayan. Seiring waktu, mulailah masyarakat tergugah melihat perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh PT Sumber Arum Makmur tersebut. 

Lalu, dengan perundingan oleh masyarakat Desa Danau Lancang Indah, kemudian pihak perwakilan masyarakat bertemu dengan pihak perusahaan dan langsung menjumpai pemilik PT Sumber Arum Makmur untuk dapat memiliki kebun seperti yang sudah dimiliki oleh perusahaan.

"Gayung bersambut, akhirnya dalam pertemuan tersebut pemilik PT Sumber Arum Makmur berjanji akan membuka lahan perkebunan untuk masyarakat Desa Danau Lancang Indah," ujar Zukri.

Sejak itulah, masyarakat Desa Danau Lancang Indah resmi beralih profesi, dari nelayan menjadi petani sawit. Dan sejak itu, berangsur perekonomian mereka bergerak naik dan naik lagi. Seiring dengan hasil sawit tiap hektar yang mereka nikmati setiap bulan. 

Setelah mendengar paparan Zukri, Koordinator Studi Banding Masyarakat Lingga, Zuhardi dan Aziz Martindas mengaku semakin optimis, perkebunan kelapa sawit akan dapat mengangkat perekonomian masyarakat Kabupaten Lingga, yang saat ini menjadi daerah termiskin di Provinsi Kepri.

"Insya Allah pola kerja sama plasma tersebut akan dilakukan juga di pihak perusahaan PT Citra Sugi Aditiya (CSA) bersama kelompok masyarakat Kabupaten Lingga, terutama Kecamatan Lingga Utara dan Lingga Timur," ujar Zuhardi.

Aziz Martindas menambahkan, saat ini sudah terbentuk beberapa koperasi seperti, Koperasi Lingga sugi Lestari (KLSL), koperasi Batu putih Lestari (KBPL), Koperasi Tunas Utama Lestari (KTUL) dan Koperasi Tunas Unggul Lestari (KTUL).

"Beberapa koperasi tersebut berada dalam kawasan kebun Plasma setiap desa yang sudah mendapat pembuatan, pembukaan lahan kebun yang dilakukan oleh PT Citra Sugi Aditya (CSA)," jelasnya.

Menurut dia, tidak perlu lagi penundaan pembukaan perkebunan kepala sawit di wilayah Lingga. Bahkan, jika sampai ada yang menghalang-halangi, menurut dia sama saja dengan membiarkan masyarakat Lingga terus menerus dalam kemiskinan.
Pewarta :
Editor: Joko Sulistyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar