Bayi di Riau meninggal karena COVID-19

id covid riau,kasus kematian akibat covid,bayi positif covid,bayi meninggal akibat covid

Bayi  di Riau meninggal karena  COVID-19

Proses evakuasi jenazah seorang PNS dari toilet masjid, dilakukan oleh Tim Gugus Tugas Penanggulangan COVID-19 RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Kamis (11/7). (ANTARA/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Seorang bayi yang masih berusia sembilan bulan di Provinsi Riau meninggal dunia akibat terinfeksi COVID-19.

Juru Bicara COVID-19 Riau dr Indra Yovi Sp.P(K) dalam pernyataan pers di Pekanbaru, Kamis, menyatakan bayi yang meninggal tersebut berinisial MYR yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hilir.

“MYR berusia sembilan bulan yang merupakan warga Kabupaten Indragiri Hilir,” katanya.

Ia mengatakan bayi malang tersebut adalah pasien ke-129 yang positif COVID-19 di Riau. Ia sempat dirawat di ruang isolasi di rumah sakit rujukan di Indragiri Hilir sebelum meninggal dunia.

Penyebab bayi tersebut tertular belum bisa dipastikan.

"Belum diketahui riwayat penularan dari MYR karena tidak memiliki riwayat perjalanan dan kontak erat dengan pasien positif COVID-19,” katanya.

Ia mengatakan ada penambahan dua pasien COVID-19 di Riau yang meninggal dunia. Selain bayi berusia sembilan bulan tersebut, satu pasien yang meninggal ada di Kota Pekanbaru yakni berinisial NC. Pasien positif ke-134 tersebut berusia 47 tahun, dan punya riwayat perjalanan dari daerah terjangkit, yakni Palembang Provinsi Sumatera Selatan.

“Pasien ke-134 sempat dirawat di Rumah Sakit Ibnu Sina pada hari Selasa, dan Rabu meninggal dunia. Sempat diambil swab dan hasilnya diketahui pada Kamis ini positif COVID-19,” katanya.

Total positif COVID-19 di Riau ada 134 kasus. Rinciannya 13 orang dirawat, 113 sehat dan sudah dipulangkan, sedangkan yang meninggal dunia bertammbah jadi delapan orang.

Indra Yovi mengatakan Gugus Tugas COVID-19 Riau terus mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, meskipun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah berakhir dan pemerintah merencanakan menerapkan new normal (adaptasi kehidupan baru) dengan tujuan mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial ekonomi.

"COVID-19 ini fenomena gunung es, kasus baru yang kelihatan saja. Kita 'gak tahu yang sebenarnya seperti apa," kata Indra Yovi.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar