14 titik banjir di Tanjungpinang belum terselesaikan

id Banjir Tanjungpinang

14 titik banjir di Tanjungpinang belum terselesaikan

Banjir di salah satu badan jalan di Kota Tanjungpinang, Kepri, beberapa waktu lalu. (ANTARA/Ogen)

Tanjungpinang (ANTARA) - Sebanyak 14 titik banjir kategori besar masih menjadi pekerjaan rumah Pemkot Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau selama beberapa tahun ke depan, kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, Sabtu.

Menurut Zulhidayat, 14 titik banjir dimaksud tersebar di empat kecamatan, yaitu Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang Timur, dan Bukit Bestari.

"Di dalam RPJMD Kota Tanjungpinang 2018-2023, kami targetkan persoalan banjir ini dapat diselesaikan," katanya.

Menurut Zulhidayat, secara bertahap Pemkot Tanjungpinang sudah mulai menangani titik rawan banjir, salah satunya dengan melakukan normalisasi saluran drainase yang semakin menyempit dan tersumbat.

Misalnya, di Kelurahan Sungai Jang, yang kerap jadi langganan banjir ketika hujan deras.

"Sekarang sudah mulai kerja, karena di lokasi itu kalau hujan deras, air meluap hingga masuk ke dalam rumah warga," ujarnya.

Kemudian, di Kampung Kolam, pun segera dibangun folder atau kolam retensi guna menampung luapan air saat hujan deras, yang biasa menyebabkan genangan banjir.

Namun, untuk pembangunan folder di wilayah itu, kata dia, Pemkot Tanjungpinang bakal berkolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV.

"Pemkot tidak kuat bangun sendiri, karena biaya kegiatan fisik-nya saja sekitar Rp10 miliar. Dan BWS Sumatera IV sudah menyanggupi untuk membangunnya, sementara Pemkot hanya perlu menyiapkan lahan," katanya.

Pemkot juga terus berupaya mengatasi titik-titik rawan banjir lainnya, meskipun semua itu sangat tergantung pada kemampuan anggaran yang dialokasikan melalui dana APBD Kota Tanjungpinang.

"Tapi, kami tetap menggalang semua potensi yang ada buat menyelesaikan masalah banjir ini, tentunya dengan melibatkan Pemerintah Pusat, dana CSR, swasta, termasuk masyarakat," sebutnya.

Rata-rata bencana banjir di ibu kota Provinsi Kepri ini, selain dipengaruhi intensitas hujan yang tinggi. Juga, disebabkan oleh kelalaian manusia.

Dia mencontohkan, masyarakat masih banyak yang membuang sampah sembarangan ke dalam drainase, sehingga membuat saluran air tersumbat, dan menimbulkan banjir.

Penyebab lainnya, cukup banyak ditemukan warga yang membuat bangunan di atas drainase, akibatnya aliran air menjadi tidak lancar karena salurannya makin menyempit.

"Maka itu, kami imbau warga yang membangun di atas saluran drainase segera dibongkar. Kalau tidak, sulit untuk mengatasi banjir ini, karena itu perlu kerjasama semua pihak, termasuk dukungan masyarakat," kata Zulhidayat.*
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar