Upaya akselerasi ekspor di tengah pandemi COVID-19

id BC Kepri,bea cukai,akselerasi ekspor,karimun

Upaya akselerasi ekspor di tengah pandemi COVID-19

Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil bersama Bupati Karimun Aunur Rafiq, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah serta instansi terkait, termasuk Kanwil DJBC Khusus Kepri berfoto bersama di sela pelepasan ekspor puluhan ton kelapa di Kundur, Kabupaten Karimun, Rabu (15/7) . ANTARA/HO-Dok. BC Kepri

Tanjung Balai Karimun (ANTARA) - Bea dan Cukai Kepulauan Riau menyatakan tetap berkomitmen mendukung dan memfasilitasi akselerasi ekspor untuk menggairahkan kembali perekonomian yang lesu sejak medio awal 2020 akibat pandemi COVID-19.

Kepala Kantor Wilayah Direktoral Jenderal Bea Cukai Khusus Kepulauan Riau (Kepri) Agus Yulianto dalam keterangan tertulis yang diterima di Tanjung Balai Karimun, Kamis, menyebutkan salah satu wujud komitmen itu adalah menggenjot ekspor komoditas pertanian.

"Walau di tengah lesunya ekonomi dunia, kami bersama Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas II Tanjung Balai Karimun tetap menggenjot upaya ekspor berbagai industri dengan melakukan kemudahan fasilitasi ekspor, salah satunya ekspor bungkil dan air kelapa," ungkap Agus Yulianto.

Kanwil DJBC Khusus Kepri bersama SKP II Tanjung Balai Karimun, KSOP, dan instansi vertikal lainnya melakukan akselerasi ekspor produk pertanian bungkil dan air kelapa ke Malaysia, Rabu, (15/07/2020).

Menurut Agus Yulianto, Pandemi COVID-19 yang telah merebak sejak medio awal 2020 lalu telah memberi dampak pada lesunya ekonomi di seluruh dunia, termasuk Indonesia,

Agus Yulianto menuturkan, salah satu tugas DJBC adalah menjamin terselenggaranya perdagangan internasional di bidang ekspor agar bisa berjalan denggan baik.

Hal ini, kata dia, sejalan dengan amanat Presiden RI terkait kemudahan investasi dan cost logistik murah atau yang dikenal dengan Ease of Doing Business (EODB).

“Untuk wilayah Kepulauan Riau, merupakan daerah yang potensial dari sisi sumber daya alam baik perikanan dan pertanian, di samping hasil tambang yang telah memberi nilai tambah bagi daerah," jelas Agus Yulianto.

Sementara itu, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa sejak 2020 total ekspor untuk produk pertanian dari kelapa mencapai devisa yang tinggi.

"Untuk total devisa ekspor bungkil dan air kelapa mencapai Rp20.855.900.000 dengan total 42 Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)," katanya.

Ia menambahkan bahwa Kanwil DJBC Khusus Kepri telah banyak memfasilitasi kemudahan ekspor. 

Beberapa waktu lalu, kata dia, pihaknya sudah mencoba melakukan direct pengurusan dokumen ekspor untuk pengolahan ikan di wilayah Bintan. Selain itu wilayah Kepri terdapat industri perkebunan seperti sagu, gambir, nanas, pisang.

"Ini semua menjadi tugas DJBC dan seluruh "stakeholder" untuk bisa mengakselerasi tumbuhnya kegiatan ekonomi masyarakat dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar mampu bersaing ke pasar regional maupun internasional," ujar Rasyid. 

Dalam mendukung peningkatan ekonomi di bidang ekspor, kata Rasyid, sinergi beberapa 'stakeholder' yang berkaitan langsung sangat diharapkan. DJBC dan instansi vertikal lainnya seperti Karantina, KSOP, dan tidak kalah pentingnya adalah peran pemerintah daerah dalam memberikan kemudahan investasi baik dari sisi penyediaan lahan dan kemudahan perijinan.

Diketahui, Kabupaten Karimun telah melakukan pencanangan industri tangguh COVID-19 pada 9 Juli 2020 lalu. Hal ini sangat diperlukan guna terwujudnya pembangunan ekonomi yang berbasis kekayaan lokal, agar dapat mampu bersaing baik dari sisi kualitas produk maupun biaya produksi, pada akhirnya akan mampu meningkatkan perekonomian di daerah tersebut.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar