Masjid Agung SMRS Batam beri nilai tambah di Lingga

id Masjid Agung SMRS Batam beri nilai tambah di Lingga,Masjid Agung Sultan Mahmud Riayat Syah

Masjid Agung SMRS Batam beri nilai tambah di Lingga

Ketua LAM Kabupaten Lingga, Drs. Muhammad Ishak saat menyampaikan sambutan disalah satu kegiatan di Gedung LAM Lingga. (Nurjali)

Tentu pasti diantara ada yang berpikir, siapa itu SMRS, apa kehebatanya, dimana makamnya dan apa saja yang menjadi tinggalan sejarah yg dibangun dan dibuatnya?
Lingga (ANTARA) - Masjid agung yang dibangun pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, yang dikatakan  menjadi masjid terbesar di pulau Sumatera dan diberi nama Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS), memberikan nilai tambah tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Lingga, yang kebetulan memiliki keterkaitan langsung dengan nama masjid tersebut.

"Ketika orang mengenal icon baru wisata religi Kota Batam tersebut, mereka pasti penasaran dengan namanya, dan kebetulan makamnya ada di Lingga sejarahnya ada di Lingga, tentu memberikan keuntungan bagi Pemda kita," sebut Datok Muhammad Ishak, Ketua Lembaga Adat Melayu, Kabupaten Lingga, kepada Antara.

Selain itu, menurut budayawan Melayu yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga ini, nama Sultan Mahmud Riayatsyah memiliki nama besar tidak hanya di Kepulauan Riau, namun di Riau hingga negara-negara jiran Singapura dan Malaysia hingga Eropa cukup mengenal nama pejuang tanah Melayu tersebut.

Disamping itu menurutnya, mengabadikan nama para sultan atau yang dipertuan besar dan raja atau yang dipertuan muda yang pernah memerintah di Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang dan Kerajaan Lingga Riau untuk penamaan, fasilitas umum, seperti nama jalan, lapangan serta lainnya sudah pernah juga dilakukan sebelumnya.

"Saya pribadi sudah pernah melakukan bersama-sama tokoh masyarakat Kecamatan Lingga,  kala itu saya dipercayakan menjadi camat Lingga oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Riau waktu itu, sebelum Kabupaten Lingga ini terbentuk," sebutnya.

Menurut pendapatnya hal itu penting, selain untuk mengenang jasa para pahlawan, hal itu juga memberikan peluang bagi semua orang untuk mengenal dan selalu mengingat leluhurnya dengan segala usaha dan perjuangannya. 

Sehingga hal itu pula dapat memotivasi dan memberi spirit kepada mereka untuk terus berbuat dan bekerja agar dapat memberikan manfaat. Semua nama nama sultan, yang pernah bertahta di kerajaan Melayu yang berpusat di Daik Lingga sudah diabadikan pada fasilitas umum.

"Karena itu nama-nama fasum  di Pulau Lingga terutama, yang sudah lama dibangun sudah diberi nama yang ada kaitannya dengan sejarah," sebutnya.

Sementara itu untuk nama Sultan Mahmud Riayat Syah di Kabupaten Lingga sendiri jauh-jauh hari sudah di abadikan pada salah satu lapangan sepakbola yang ada di Daik Lingga yang kala itu dibuatnya, ketika menjabat menjadi Camat di Daiklingga.

Begitu juga nama beberapa ruas jalan yang ada di Kecamatan Lingga. Menurutnya saat mengusulkan SMRS tahun 2013 dan 2017 sebagai Pahlawan Nasional, ternyata nama fasum di Kabupaten Lingga yang mengabadikan nama SMRS juga ikut menjadi salah satu persyaratan.

"Alhamdulillah kita sudah punya sejak lama. Kemudian perkembangan berikutnya pernah ada rapat dan wacana dari Pemkab Lingga untuk menamakan pusat pemerintahan Kabupaten Lingga dengan nama bandar Sultan Mahmud Riayat Syah." 

"Karena SMRS sekarang sudah menjadi pahlawan Nasional, yang artinya sudah menjadi pahlawannya masyarakat dan bangsa Indonesia," jelasnya.

Terakhir Muhammad Ishak mengaku, jika nanti ada pemerintah daerah atau negara lain tidak hanya di Kepulauan Riau saja, yang ingin mengabadikan nama besar SMRS, tentu hal itu akan sangat berdampak positif bagi Kabupaten Lingga, dan Provinsi Kepri khususnya.

Dengan begitu nama besar SMRS salah satu pahlawan nasional yang merupakan usulan Pemprov Kepri dan Pemkab Lingga, akan semakin diketahui khalayak yang lebih luas. Apalagi SMRS wilayah kesultanannya dulu begitu luas, bukan saja terbatas seperti wilayah administrasi Provinsi Riau dan Provinsi Kepri saat ini.

"Dulu sampai ke negara tetangga, beliau berkuasa." 
(Antara)   
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar