Batu Ampar Batam jadi "green port" pertama di RI

id luhut pandjaitan,pelabuhan batu ampar,batam,green port

Batu Ampar Batam jadi "green port" pertama di RI

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. ANTARA/HO-Kemenko Kemaritiman dan Investasi/pri.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan ingin menjadikan Pelabuhan Batu Ampar di Batam sebagai pelabuhan ramah lingkunan (green port) pertama di Indonesia.

Dalam konferensi pers bersama mengenai penataan Ekosistmen Logistik Nasional secara daring, Kamis, ia mengatakan akan berkunjung langsung ke Batam untuk meninjau proyek infrastruktur tersebut sekaligus mengecek implementasi Ekosistem Logistik Nasional (National Logistic Ecosystem/NLE) di daerah itu.

"Kita ingin Batam ini jadi contoh green port pertama di Indonesia karena kita belum punya. Itu Pelabuhan Batu Ampar," kata Luhut Pandjaitan.

Luhut mengatakan pemerintah juga akan membenahi perkapalan di Bintan dan Batam. Ia juga menyebut akan ada investasi lebih dari Rp5 triliun untuk pembersihan limbah dalam kegiatan lego jangkar.

Luhut juga akan mengerahkan TNI Angkatan Laut dan Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk menyergap kapal-kapal yang membuang limbah mereka di laut Indonesia. Selain itu, pemerintah melalui Pushidros AL akan menertibkan alur kabel pipa fiber optik yang berantakan di bawah laut dan diharapkan bisa rampung tahun ini.

"Jadi kita segera buat keputusan ini untuk buat negeri ini lebih efisien. Saya kira terlalu lama negeri ini tidak efisien, terlalu lama kita suka disogok-sogok, ini yang menurut saya membuat kita jadi bangsa yang tidak bisa tegak dadanya menghadapi keadaan ini," kata Luhut Pandjaitan.

Luhut berharap implementasi NLE yang diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional akan memberi dampak pada efisiensi biaya, mendorong investasi serta meningkatkan penerimaan negara.

Mantan Menko Polhukam itu menyebut NLE yang memangkas 17 transaksi layanan menjadi satu layanan tunggal akan memberikan efisiensi biaya sekitar Rp1,5 triliun hanya di Batam saja. Sejalan dengan itu, ia juga memperkirakan sistem tersebut akan bisa mendatangkan hingga Rp5 triliun investasi di Batam.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar