Bisnis aplikasi online dari desa bangkit ditengah pandemi

id Bisnis aplikasi online dari desa bangkit ditengah pandemi

Bisnis aplikasi online dari desa bangkit ditengah pandemi

Dua aplikasi lokal jasa angkutan barang dan orang yang hadir diwilayah Kabupaten Lingga (Nurjali)

Kalau yang sudah terbiasa pakai Go Jek, mungkin tidak masalah, tapi kebanyakan belum paham dengan penggunaan aplikasi, padahal sebenarnya sangat mudah
Lingga (ANTARA) - Pandemi yang melanda seantero negeri, salah satu bisnis aplikasi online menjadi semakin menjamur dan tetap bangkit hingga merambah ke pelosok desa untuk jasa layanan antar jemput barang dan penumpang.

Meski  rendahnya infrastruktur pendukung komunikasi internet di wilayah pedesaan belum menjangkau seluruh pulau-pulau yang ada di Kabupaten Lingga, namun para usahawan muda di wilayah ini memberanikan diri untuk terjun ke bisnis digital dengan membuka startup, yang berbasis platform layanan jasa antar barang dan penumpang.

"Kami berani karena disini belum ada, ditambah lagi dengan adanya pandemi salah satu solusi untuk masyarakat yang membatasi diri keluar rumah," ucap Heri Candra salah satu pengelola startup dengan nama Wak Joki, kepada Antara, Kamis.

Meski di wilayah ini secara geografis luas daratannya sangat kecil, dibandingkan luas lautnya namun tidak membuat para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diwilayah ini tertinggal untuk meniru keberhasilan para startup raksasa yang ada di kota-kota salah satunya Gojek.

Wak Joki merupakan aplikasi yang hampir mirip dengan Gojek yang menawarkan banyak jasa kemudahan, mulai dari antar barang, hingga antar jemput penumpang yang saat ini sudah memiliki sedikitnya delapan orang driver.

"Kami baru buka sekitar 3 bulan, dan dimasa pandemi ini," ujarnya.

Selain Wak Joki, diwilayah Singkep sendiri juga sudah ada jasa angkutan penumpang dan barang, yang diberinama Ngah Jek, meski belum berbasis aplikasi seperti Wak Joki, namun Ngah Jek juga cukup banyak memiliki pelanggan setianya.

Pengelola Ngah Jek Budi mengaku, dirinya sudah membuka jasa angkutan tersebut lebih dulu dibandingkan jasa lainnya yang mirip. Hanya saja saat ini Ngah Jek sendiri masih menggunakan aplikasi Whatsup dan Messenger sebagai salah satu andalannya, untuk menarik penumpang memesan menggunakan jasa mereka.

"Kalau pengemudi kami masih sedikit, sekitar 5 orang tapi jangakauan kami sudah cukup luas, dan hampir setiap hari selalu ada pelanggan," sebutnya.

Dengan hadirnya beberapa UMKM yang bergerak dibidang jasa antar jemput ini, juga ikut membantu UMKM lainnya khususnya jasa penjualan makanan diwilayah Kabupaten Lingga untuk ikut tumbuh dan berkembang dengan sistim pembelian yang dikenal dengan istilah delivery atau pengiriman secara online.

Tantangan aplikasi digital dilevel desa

Meski cukup banyak diminati, para pelaku usaha jasa angkutan online ini mengaku pihak mereka juga mendapat banyak tantangan dalam mengembangkan usaha jasa antar jemput pesanan atau penumpang secara online tersebut.

Salah satu tantangan para driver ojek online ini adalah masih banyaknya pelaku UMKM rumahan yang mempromosikan barang-barang jajanan mereka melalui aplikasi facebook dan WAG yang mereka buat sendiri, dan mengantarkan pesanannya sendiri.

"Ada yang jualan dirumah, mereka promo lewat facebook, dan mereka sendiri yang mengantar tidak melalui jasa kita, tapi itu bagian dari upaya mereka untuk menekan harga jualannya, kami pasrah saja," jelas Yuda pengelola Ngah Jek.

Tantangan lainnya adalah masih belum terbiasanya masyarakat diwilayah kepulauan menggunakan aplikasi, meskipun sebagian besar masyarakat sudah mengenal WAG dan facebook, hal ini dialami oleh aplikasi Wak Joki yang perangkat khusus untuk pemesanan.

"Kalau yang sudah terbiasa pakai Go Jek, mungkin tidak masalah, tapi kebanyakan belum paham dengan penggunaan aplikasi, padahal sebenarnya sangat mudah," jelas Bayu Owner dari aplikasi Wak Joki.

Menghidupkan usaha rumahan

Penggunaan media sosial dan aplikasi yang saat ini tidak lagi menjadi barang tabu bagi masyarakat, memberikan dampak positif bagi usaha-usaha rumahan karena hanya dengan berbekal gadget yang satu juta sampai dua jutaan, warga dapat dengan mudah menjual produk-produk rumahannya tanpa harus membuat warung.

Bahkan tidak jarang-jarang produk-produk rumahan juga dapat terjual hingga keluar daerah, meskipun ditengah kondisi pandemi saat ini, usaha-usaha rumahan sepertu kuliner dan hiasan-hiasan rumah masih dapat bertahan dengan omset yang seadanya.

"Sekarang kita jualan secara online lebih banyak pembeli, ketimbang membuka warung karena orang tidak berani keluar rumah ditengah pandemi ini," sebut Yati salah satu pedagang kue diwilayah Singkep.

Dengan menggunakan kemampuan Copywriting seadanya, menggunakan bahasa daerah yang mudah para penjual kue yang dulunya harus berjualan dari rumah kerumah atau dengan membuka kedai atau toko kini sangat terbantu dengan kehadiran aplikasi jasa antaran barang dan orang.

Meskipun begitu pemerintah daerah setempat, belum terlihat memberikan perhatian untuk usaha-usaha digital ini, bahkan untuk pengurusan izin didaerah pemerintah daerah sendiri masih kebingungan untuk memberikan regulasi legalitas usaha-usaha aplikasi yang pembuatnya rata-rata adalah generasi muda millenial. 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar