Warga kesurupan bantah dirinya memaksa petugas keluarkan surat vaksin

id Natuna, vaksin, kesurupan saat divaksin, serasan

Warga kesurupan bantah dirinya memaksa petugas keluarkan surat vaksin

Tangkap layar video Emiliawati (34) saat menghadang petugas vaksin di Desa Batu Berian, Kecamatan Serasan, Natuna pada Jumat (30/7). (ANTARA/Cherman)

"Saya datang ke tempat vaksin, lalu petugas dengan tegas bilang mau atau tidak divaksin, otomatis saya ngamuk"
Natuna (ANTARA) - Emiliawati (34) warga yang sempat mengalami kesurupan pada saat akan di vaksinasi oleh para petugas vaksin di Desa Batu Berian, Kecamatan Serasan, Natuna pada Jumat (30/7) membantah jika dirinya memaksa petugas untuk mengeluarkan surat keterangan telah di vaksin sebagaimana penjelasan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah.

"Saya merasa dirugikan atas pernyataan jika saya memaksa dan meminta untuk dikeluarkannya surat keterangan vaksi, saya tegaskan itu tidak ada, namun saya mengakui jika saya memang sempat mengamuk", kata Emiliawati saat menghubungi ANTARA, Sabtu.

Ia juga menjelaskan sebelumnya dirinya telah melapor kepada kepala desa setempat jika dirinya tidak bisa divaksin dengan alasan mahkluk alus yang ada ditubuhnya tidak menerima jika dilakukan vaksin.

"Saya bukan tidak mau, tetapi yang di dalam badan saya ini tidak menerima, saya sudah sampaikan ini kepada pihak kepolisian, kades, tim kesehatan juga, saya memang tidak bisa dikasari, gampang ngamuk, saya sudah ingatkan", jelasnya.

Selain itu, ia juga mengatakan dirinya jika dipaksa akan bereaksi spontanitas dan hal itu sering terjadi pada dirinya.

"Saya tidak bisa dikasari, dipaksa, dibentak memang badan saya ini ada kelainan, saya juga tidak mau, saya juga tidak ingin mempermalukan diri saya sendiri seperti ini, ini bukan kemauan saya, saya sudah sampaikan ke pak kades jika tidak bisa berangkat, tidak dapat bantuan apapun saya terima, saya siap", kata Emiliawati.

Menurutnya, sejak awal telah diingatkan kepada petugas akan resiko jika tetap memaksakan dirinya untuk dilakukan vaksinasi jauh sebelum hal itu terjadi.

"Saya dipanggil oleh pak polisi untuk datang ke tempat vaksin, lalu petugas dengan tegas bilang mau atau tidak divaksin, otomatis saya ngamuk, saya tidak bisa kalau dikasari seperti itu, mereka sebelumnya bilang mau bertanggung jawab jika terjadi, nah sekarang terbukti, sama samalah kita tanggung jawab akibatnya", kata Emiliawati.

Sehari sebelumnya, diketahui bahwasanya salah satu warga Desa Batu Berian, Kecamatan Serasan, Natuna mengalami kesurupan dan mengamuk saat akan dilakukan vaksin oleh para petugas.

"Iya benar itu warga saya, dan sebelumnya juga sudah kita ingatkan petugas Puskesmas bahwa di tubuh warga saya itu ada mahkluk halus, dianya mau di vaksin tetapi mahkluk yang ada di dalam tubuhnya tidak mau divaksin, saya selaku kades tentu mengetahui kondisi warga saya dan kejadian seperti itu pernah terjadi sebelumnya", kata Kepala Desa Batu Berian, Meriadi saat dihubungi ANTARA, Jumat (30/7) malam.

Seperti apa kejadiannya ia mengaku tidak mengetahui dan melihat langsung, namun ia memastikan hal itu memang benar terjadi di Desa Batu Berian.

"Saat kejadian saya berada di dalam kantor, seperti apa persisnya saya tidak tahu banyak, tetapi saya mendengar dan mengetahui kalau ada kejadian itu", ungkapnya.

Awalnya menurut Kades warganya itu sempat datang dan mau untuk menjalankan program vaksin gratis tersebut.

"Pada saat Ia datang kondisi baik - baik saja, namun setelah di dalam (Gedung pertemuan desa tempat dilakukan vaksin) saya tidak mengetahui persis, saya juga tidak melihat langsung", jelasnya.

Atas kejadian tersebut, Kades juga menyampaikan bahwa sebelumnya Ia telah memberikan saran agar petugas vaksin mempertimbangkan hal tersebut.

"Sudah saya sampaikan, namun pihak kesehatan ingin memeriksa terlebih dahulu sebelum dilakukan vaksin, mungkin pihak kesehatan lebih mengetahui hal tersebut", kata Kades.

Ia juga menegaskan pada dasarnya semua warga ingin dan mau mengikuti program vaksin, namun ada hal tertentu yang membuat warga tidak bisa divaksin.

"Ada juga warga kita memang tidak bisa divaksin karena ada riwayat penyakit seperti jantung, pada intinya warga saya tersebut Ia mau divaksin cuma itu tadi mahluk halus yang ada di tubuhnya itu tidak mau divaksin", kata Kades.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah saat dikonfirmasi mengatakan kejadian tersebut berawal dari salah satu warga minta dikeluarkannya surat keterangan vaksin tanpa mengikuti vaksin.

"Info yang saya dapat dari Kepala Puskesmas yang bersangkutan tidak mau divaksinasi, tapi minta dikeluarkan surat sudah divaksinasi,  tentu saja ditolak sama dokternya,  karena ditolak makanya ngamuk", kata Hikmat.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar