Perairan Dompak dinilai potensial untuk industri garam

id Dompak,Industri garam

Perairan Dompak dinilai potensial untuk industri garam

Jembatan Dompak, Tanjungpinang. (ANTARA News Kepri/Pradanna Putra)

Salah seorang pengusaha di Pulau Jawa tertarik membangun industri garam di Dompak, kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Lahan yang dibutuhkan sekitar 3 hektare.
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Mantan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri, Den Yealta menilai perairan Pulau Dompak mengandung yodium yang cukup tinggi sehingga potensial untuk industri garam.

"Dua tahun lalu tim ahli dari Fakultas Perikanan Universitas Riau sudah mengkaji. Hasilnya bagus, dan layak dikembangkan industri garam," kata Den Yealta di Tanjungpinang, Rabu.

Den yang baru beberapa hari lalu masa jabatannya berakhir sebagai Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Kota Tanjungpinang itu pernah menawari sejumlah investor agar membangun industri garam di Pulau Dompak.

Salah seorang pengusaha di Pulau Jawa tertarik membangun industri garam di Dompak, kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Lahan yang dibutuhkan sekitar 3 hektare.

"Kami mendorong pemerintah daerah untuk membantu persoalan perijznan, amdal dan lainnya agar pabrik garam itu jadi dibangun," katanya.

Nilai investasi untuk membangun industri garam, kata dia tidak terlalu besar, dan pengusahanya memperoleh hasil setiap bulan yang cukup tinggi.

"Investasi sekitar Rp3 miliar, tidak terlalu besar untuk membangun pabrik," katanya.

Den Yealta mengatakan, garam dibutuhkan masyarakat sehingga sudah selayaknya Kepri memproduksi komoditas itu. Jika kebutuhan masyarakat sudah terpenuhi, produk itu dapat diekspor ke Singapura, Malaysia, dan negara lainnya yang bertetangga dengan Kepri.

"Kita kan tahu 96 persen wilayah Kepri itu lautan, sudah seharusnya memiliki industri garam. Tentu ini memberi nilai positif bagi masyarakat," ujarnya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Danna Tampi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar