Pejuang pembentukan Provinsi Kepri kecewa terhadap Gubernur

id Hut kepri 16

Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun saat memberikan kata sambutan dalam peringatan HUT Kepri ke 16 di Gedung Daerah. (ANTARA News Kepri/Pradanna Putra)

Namun yang lebih membuat Huzrin kecewa adalah peresmian proyek Gurindam 12 di sela-sela HUT ke-16 Kepri.
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Sejumlah pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau merasa kecewa terhadap sikap Gubernur Nurdin Basirun, dan memilih tidak hadir dalam acara hari ulang tahun provinsi itu di Gedung Daerah Tanjungpinang, Senin.

Ketua Yayasan Badan Penyelaras Pembangunan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR), Huzrin Hood, tidak hadir dalam acara tersebut.

"Mungkin saya tidak dibutuhkan lagi," ucap Huzrin, yang memilih ngopi di salah satu restoran di Batu 8 Tanjungpinang.

Namun yang lebih membuat Huzrin kecewa adalah peresmian proyek Gurindam 12 di sela-sela HUT ke-16 Kepri. Proyek itu belum layak dilaksanakan sekarang, karena kondisi anggaran daerah yang defisit dan pertumbuhan perekonomian yang menurun.

Anggota DPRD Kepri secara umum juga menolak pembangunan jalan lingkar Gurindam 12 di Tepi Laut Tanjungpinang.

"Tetapi kenapa dipaksakan Apalagi pemenang proyek itu, perusahaan yang sudah masuk daftar hitam. Ada apa ini? Kami minta KPK mengusutnya," ujarnya

Abdul Halim, salah seorang pejuang pembentukan Provinsi Kepri mengatakan perayaan HUT Kepri tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, tampak manajemen pelaksanaan acara kurang baik, meski dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan itu cukup banyak sehingga perlu mendapat apresiasi.

Halim mengungkapkan kekecewaannya dimulai dari pemasangan baliho, yang berisi foto-foto semasa berjuang. Baliho yang dipasang di samping Gedung Daerah itu bukan berdasarkan keinginan pemerintah, melainkan inisiatif sejumlah pejuang pembentukan Provinsi Kepri. Kalau tahun sebelumnya, baliho dipasang oleh para pejuang, namun difasilitasi pemerintah.

"Sekarang para pejuang tidak mendapatkan kursi di dalam acara," tuturnya, yang juga salah seorang staf di Dinas Pendidikan Kepri.

Halim sendiri sejak tadi pagi hingga akhir acara berada di bawah baliho tersebut.

"Tidak ada yang boleh mencabutnya," katanya.

Baliho itu perlu dipasang, bukan hanya sekadar untuk mengenang, melainkan mendorong pemerintah melaksanakan tugas secara maksimal, dan para generasi muda dapat berkontribusi dalam pembangunan.

"Kepri menjadi provinsi bukan sebuah pemberian, melainkan hasil perjuangan. Kepri tidak sama seperti Gorontalo ataupun Babel," ujarnya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Danna Tampi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar