Bripka Bayu tantang gelombang kejar pengebom ikan

id tambelan, bripka bayu, ilegal fishing

Bripka Bayu tantang gelombang kejar pengebom ikan

Bripka Bayu (kiri berpakaian lengkap pengamanan ) saat apel pagi untuk membawa tahanan pengebom ikan ke Tanjungpinang Foto Saud MC

Tambelan, Bintan (ANTARA) - Bhabinkatibmas Desa Pulau Pinang, Kecamatan Tambelan, Bripka Bayu Anderiadi adalah sosok Polri yang disebut-sebut sebagai pimpinan dalam aksi penangkapan pelaku illegal fishing menggunakan bahan peledak di Pulau Penyemuk,  Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan pada Selasa (30/7) lalu.

Aksi heroik menerobos gelombang selatan di laut Tambelan ini, menimbulkan rasa penasaran seperti apa peristiwa sebenarnya yang membuat 4 pelaku pengeboman di perairan Pulau Penyemuk tersebut berhasil diringkus.

Kepada Antara, personil Polsek Tambelan yang akrab disapa Bayu ini memaparkan bahwa penangkapan pelaku pengeboman ikan pada (30/7) terjadi melalui informasi Kepala Desa Pulau Mentebung, Iswandi di Pulau Tambelan .

Mendapat informasi tersebut, Bayu mengatur taktik perburuan dari Tambelan ke lokasi laporan adanya aktifitas pengeboman ikan, yakni di area perairan Desa Pulau Mentebung.

Strategi yang disiapkan Bayu agak berbeda, dengan alasan ritme pergerakan pemburuan pelaku bom acap kali terdengar, alias bocor. Sehingga sering aktifitas pemburuan tak membuahkan hasil.

Setelah mendapat izin dari Kapolsek Tambelan Ipda Misyamsu Alson yang waktu itu berada di Tanjungpinang, Bayu mempercayai Kades Pulau Mentebung mengatur perbekalan dan armada milik Desa Menebung untuk digunakan sebagai armada patroli.

Setelah "ready", rombongan tim yang dipimpin Bayu bertolak dari Tambelan ke TKP pada pukul 01:00 WIB Senin dini hari (29/7). 

Menggunakan KM. Mentebung 25GT, Bripka Bayu dipercaya untuk memburu pelaku bom dengan membawa sejumlah perangkat aksi polisi diikuti juga oleh tekong KM. Mentebung Wawan, Satpol PP Tambelan Ibrahim, 1 ABK, dan 3 orang perangkat Kantor Desa Pulau Mentebung.

"5 jam pelayaran laut ke Pulau Mentebung, kami mengitari pulau-pulau sekitarnya, mulai dari Pulau Panau, Pulau Batu, Pulau Ujung, Pulau Pengage, Tanjung Aru," tegas alumni  SMA Muhammadiyah Tanjungpinang tersebut.

Waktu menunjukan sekitar pukul 09:00 WIB, Selasa pagi (29/7), tapi rombongan Bayu belum menemukan tanda-tanda adanya keberadaan aktifitas pengeboman.

KM Mentebung kembali melanjutkan pencarian ke pulau terakhir, yakni Pulau Penyemuk. Setiba di laut Pulau Penyemuk, Bayu bersama rombongan mengaku melihat 3 kapal kayu (pompong), akan tetapi ketika target terlihat pada jarak sekitar 300 meter, armada yang digunakan Bayu mengalami patah lengan kemudi.

"Kerusakan ini yang membuat kami fokus hanya pada 1 target yang ketika itu kondisi gelombang memang sangat luar biasa," tegas suami dari Erma Yunita ini.

Ketika KM Mentebung bergerak ke arah target,  terlihat pelaku sedang menciduk ikan di laut yang kemungkinan merupakan hasil ledakan bom ikan.

Kehadiran Bayu baru disadari pelaku ketika berada pada jarak tembak efektif, akan tetapi dengan spontan pelaku meningkatkan kecepatan kapal dan begegas pergi.

Melihat respon pelaku, kecurigaan bertambah kuat. Membuat armada Bayu secara sigap langsung mengejar dalam kondisi patah kemudi. 

Tidak putus akal, kendala tersebut disiasati dengan mengganti mode kemudi secara manual. Yakni mengendalikan kemudi dengan tangan.

Pengejaran berlanjut selama 1,5 jam, pompong pelaku pengeboman akhirnya kandas di bibir pantai Pulau Penyemuk. Pada saat itu, 4 orang yang berada di pompong tersebut melompat ke pantai dan berlari menuju daratan.

Sementara itu, bantuan personil yang ditunggu dari Pulau Tambelan dikabarkan berbalik arah untuk ganti  armada, dikarenakan pompong pengangkut bantuan berkapasitas 5 GT  itu tidak  mampu meretas gelombang selatan.

Curiga dengan pompong yang ditinggalkan pelaku di bibir pantai Pulau Penyemuk, Bayu memberikan jeda waktu untuk memastikan bahan peledak di pompong tersebut tidak dirancang  sebagai umpan untuk mencelakakan pihak polisi dan rombongan.

"Sampai pada batas waktu aman,  kami mengambil sikap untuk tetap mengejar pelaku, kami turun ke pantai menggunakan perahu kecil sebagai sekoci ," ungkap Bayu.

Bayu menjelaskan bahwa, penggunaan sekoci disebabkan pompong yang dipakai Bayu dan kawan-kawan tidak bisa lebih dekat ke pantai karena kondisi gelombang kuat.

Menjejakkan kaki di pantai Pulau Penyemuk, Bayu dan  rombongan melakukan menelusuran pagar betis memasuki hutan di perbukitan pulau tersebut. Pencarian berbuah hasil, 3 pelaku ditemukan sedang bersumbunyi di bawah batu besar.

Dengan intruksi teriakan, 3 pelaku mengangkat tangan mendekat ke arah Bayu beserta rombongan. Dalam kondisi aman, 3 pelaku dibawa ke KM. Mentebung bersama barang bukti,  dan mencari tempat aman berlabuh dari gelombang.

Sambung Bayu, labuhan tersebut adalah untuk memantau 1 pelaku yang tersisa dan masih bersembunyi di Pulau Penyemuk, sambil  menunggu bantuan datang dari Tambelan tanpa ada sinyal telpon.

"Karena kondisi gelombang yang tak bersahabat, kami tak mampu bertahan lama, hingga memutuskan mengarahkan haluan ke Desa Pulau Mentebung," ungkapnya.

Malam setiba di perairan Pulau Mentebung, situasi bertambah mencurigakan. Yakni ketika ada 4 perahu masyarakat yang mendekat ke arah pompong Bayu dan kawan-kawan.

Kecurigaan mulai muncul dengan melihat gerak-gerik perahu yang menuju ke arah KM Mentebung. 

"Dalam kondisi ini, kami memutuskan kembali melanjutkan perjalanan ke Tambelan. Sekitar 45 menit perjalanan tepatnya di antara Pulau Mentebung dan Pulau Jengkulan, kami bertemu dengan pompong bantuan personil KM Astagona," 

Dari pertemuan ini, 2 armada secara bersama-sama mencari tempat labuhan aman dari gelombang, yakni di Pulau Ujung. Tambahan armada dan personil dari Koramil 07 Tambelan,  Edi Saputra membuat arah pencarian dibagi dua.

Yakni, KM Astagona tetap berlabuh sebagai armada tempat diamnkannya 3 pelaku pengeboman, sementara KM Mentebung menuju Pulau Penyemuk pada pukul 01.00WIB dini hari (30/7) mencari 1 pelaku yang masih bersembunyi di pulau tersebut.

Di sisi lain, Kades Pulau Mentebung memeriksa kondisi desanya, dan dipastikan Desa Pulau Mentebung dalam kondisi aman.

Sementara itu, menjelang pagi, atau sekitar pukul 07:00WIB di Pulau Penyemuk. Bayu beserta rombongan di KM Mentebung melihat ada sosok manusia yang berlari melewati batu cadas sekitar pantai atau disebut Batu Tokong Penyemuk.

Melihat hal tersebut, Bayu ditemani rombongan dan Koramil Edi turun ke lokasi tempat terlihatnya seseorang yang dicurigai sebagai 1 pelaku pengeboman yang sempat lolos dan bersembunyi pada penyergapan awal (29/7).

Tiba di lokasi yang dimaksud, rombongan melihat 1 unit pelampung rakitan. Sementara, terduga pada waktu itu ditemukan dengan menenggelamkan diri di bawah laut menggunakan alat bantu pernafasan snorkeling.

"Langsung kami amankan dan kami meminta agar terduga menunjukkan lokasi barang-barang lain yang pelaku bawa dalam aksi pengeboman," ungkapnya.

Ternyata, barang yang dikemas dalam ransel para pelaku berada di TKP awal, yakni dibawah batu besar pada penangkapan sebelumnya (29/7).

Dalam keberhasilan menangkap pelaku pengeboman ini, Bayu mengaku bahwa semua yang dilakukan atas kerjasama yang baik dan kekompakan antara Polri, TNI, Satpol PP Tambelan, Kades Desa Pulau Pinang dan perangkatnya, disertai dengan antusias masyarakat yang benar-benar memerangi aksi pengeboman ikan.

Bagi Bayu, sejak diterima menjadi Polri pada 2000/2001silam ia merasa senang.

"Menjadi seorang polisi memang berat, tapi saya lalukan dengan senang hati maka semua akan ringan," ucapnya.

Menurut Bayu, setiap diberikan tugas dan kepercayaan, dilakukan dengan semangat dan selalu berusaha berbuat baik dan terbaik.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar