Ikan pesut tersesat di anak sungai di Pelalawan, Riau

id ikan pesut,pesut tersesat,BPSPL padang,sungai kampar riau

Ikan pesut tersesat di anak sungai di Pelalawan, Riau

Arsip foto. Lumba-lumba di perairan Pulau Pandan. (ANTARA/Miko Elfisha)

Pekanbaru (ANTARA) - Seekor ikan pesut (Orcaella brevirostris) tersesat dari habitatnya di muara Sungai Kampar ke anak sungai di Desa Segati, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

“Belum pernah sebelumnya ikan pesut sampai ke sini. Awalnya warga mengira itu lumba-lumba, dan sekarang jadi tontonan warga sampai ratusan orang berkumpul ingin melihatnya,” kata seorang warga Aldis ketika dihubungi ANTARA dari Pekanbaru, Jumat.

Aldis menjelaskan warga setempat mulai melihat penampakan ikan pesut tersebut sejak Rabu (16/9). Warga berusaha memasang jaring di bagian hulu dan hilir Sungai Segati agar pesut dewasa itu tidak berenang terlalu jauh. Namun, air di anak sungai Kampar itu sedang tinggi sehingga pesut yang diperkirakan sepanjang dua meter itu dengan mudah melewati jaring.

Warga setempat merekam video kejadian itu menggunakan gawai. Video amatir warga menyebar luas (viral) dan membuat sejumlah instansi terkait langsung turun ke lapangan, mulai dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Dinas Perikanan Kabupaten Pelalawan, dan ahli perikanan dari lembaga Jakarta Animal Action Network (JAAN), hingga komunitas Mancing Mania. Selain itu, ia mengatakan pihak kepolisian sudah berada di lokasi dan memberitahu warga bahwa satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh dibunuh.

“Saat ini pesut itu berada di area perkebunan sawit milik PT Mitra Unggul Pusaka, dan masih kondisi hidup,” katanya.

Pengendali Ekosistem Laut dan Pesisir BPSPL Padang pada Satuan Kerja (Satker) Pekanbaru, Muhammad Faeyumi, mengatakan satwa mamalia itu rencananya akan dievakuasi pada hari ini. Namun, evakuasi terpaksa ditunda sejumlah kendala.

“Kita masih mendiskusikan, belum bisa (evakuasi) karena waktu yang tidak memungkinkan,” kata Faeyumi dihubungi wartawan dari Pekanbaru.

Menurut dia, hasil pengamatan awal menunjukkan pesut tersebut mengalami disorientasi karena cukup ramai aktivitas perahu di sungai tersebut. 

“Kami beri arahan bahwa aktivitas hilir mudik perahu dan pompong bisa mengganggu sistem sonar pesut dan mengalami disorientasi. Jadi kapal-kapal itu kini lebih tertib,” katanya.

Menurut dia, kondisi yang bising dan ramai warga juga cukup mengganggu proses evakuasi satwa yang berdasarkan lembaga pemeringkat konservasi alam global (IUCN) berstatus rentan (vulnerable) itu.

Direncanakan pesut tersebut akan dievakuasi ke habitatnya di muara sungai. Mamalia air tersebut terlihat aktif bergerak dan setiap dua menit sekali muncul ke permukaan Sungai Segati. 

 

Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar