Pulau Bakung Diyakini Bisa Pasok Daging ke Mancanegara

id pulau,bakung,diyakini,bisa,pasok,daging,mancanegara

Saya sampaikan ke Kementan agar peraturann pemerintah mengenai pulau karantina ini segera diterbitkan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi
Batam (Antara Kepri) - Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo meyakini bahwasanya Pulau Bakung yang berada di Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau dan dijadikan kawasan karantina hewan serta sentra peternakan nantinya tidak hanya bisa memasok kebutuhan daging sapi di dalam negeri tapi juga ke mancanegara.

"Saya yakin dengan potensi sekarang ini (Pulau Bakung) sudah bisa diandalkan, tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri tapi juga internasional," kata Firman Subagyo, di Batam, Rabu. 

Firman mengatakan setahun Indonesia membutuhkan 650 ribu ton daging sapi. Dari jumlah tersebut 270 ribu ton diimpor dari beberapa negara salah satunya Selandia Baru. Jika dihitung lanjutnya 270 ribu ton daging itu sama 1,5 juta ekor sapi. 

"Saya sampaikan ke Kementan agar peraturann pemerintah mengenai pulau karantina ini segera diterbitkan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," katanya. 

Firman mengatakan masalah anggaran akan diupakan Komisi IV DPR RI dapat segera digelontorkan. Menurutnya Pulau Bakung yang akan dijadikan pusat karantina hewan dan sentra peternakan akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat.

"Kita minta Pemprov dan Pemkab serius mengarap ini dan saya yakin temen-temwn di Kementan (Kementerian Pertanian) dapat menjaga komitmen ini," ujar dia. 

Firman mengatakan Kabupaten Lingga adalah wilayah yang sangat strategis sehingga Pulau Bakung diharapkan nantinya tidak hanya memproduksi ternak siap potong, tapi juga didisign menjadi tempat pembenihan ternak. 

"Daging-daging itu nantinya didistribusikan ke daerah-daerah lain dan bisa menjdi pemasok kebutuhan nasional dan ekspor ke negara-negara tetangga," kata Firman. 

Ia mengatakan hasil riset Universitas Gajah Mada (UGM) menjadi landasan utama untuk mengimplementasikan Pulau Bakung sebagai pulau karantina. Ia juga meminta pemimpin ke depan apabila Alias Wello tidak lagi menjabat sebagai bupati harus memegang komitmen tersebut yaitu mewujudkan Pulau Bakung sebagai pulau karantina ternak. "Kalau berkomitmen swasembada daging akan tercapai dan kita ingin membangun komitmen bersama untuk mengimplementasikn pulau karantina ini," kata Firman. 

Salah seorang tim peneliti dari UGM Nafiatul Umami mengatakan Pulau Bakung memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan, tidak hanya menjadi pulau karantina tapi juga kegiatan lainnya. Ia mengatakan studi awal yang dilakukan timnya saat berada di Pulau Bakung yaitu dengan mengambil contoh tanah, air tanaman dan pakan. 

Serta melakukan pengecekan udara, lingkungan dan gambaran epidemologi penyakit. Metode yang dilakukan tim UGM diantaranya desk study dan survei lapangan. 

"Hasilnya untuk mencapai ke Pulau Bakung bisa dilakukan dengan transportasi laut, Pulau Bakung juga berbatasan dengan laut lepas sehingga memudahkan kapal-kapal besar untuk lewat dan sangat memungkinkan untuk mengangkut ternak dalam hal ini sapi," katanya.

Tidak hanya itu lokasi Pulau Bakung yang berada dua meter di atas permukaan laut menjadi keunggulan lain. Karena akan terhindar dari banjir serta ada sungai-sungai kecil di Pulau Bakung yang memudahkan ternak untuk minum. "Sungai akan jadi sumber daya yanh sangay bagus untuk ternak," ujar dia. 

Keuntungan lain lanjutnya di Pulau Bakung tidak ada hewan buas, sehingga sangat aman bagi hewan ternak. Namun kata Umami untuk kondisi tanah saat ini phnya masih rendah yaitu antara 5,2 dan 5,7. Kondisi itu lanjutnya membuat tanah agak asam. 

Tetapi katanya hal itu bukan menjadi hambatan besar. Menurutnya ph tanah berada di angka tersebut karena belum ada hewan ternak. "Kalau nanti sudah ada hewan akan mengubah ph tanah menjadi lebih baik, angka ph tanah yang aman adalah enam," katanya. 

Sementara untuk pakan ternak tim UGM katanya menemukan banyak tanaman yang cocok untuk ternak diantaranya ada karangmunting, senduduk, idat dan rumput lapangan. "Pakan ini cocok untuk makanan ternak dan luas lahannya itu mencapai 3500 hektar," ujarnya. 

Rekomendasi yang diberikan pihaknya kepada Pemkab Lingga diantaranya adalah land clearing dan pemupukan lahan.(Antara)

Editor: Dedi
Pewarta :
Editor: Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar