GRC: Debat publik kurang berefek pada elektoral

id Pilkada tanjungpinang,Pemilu 2018

Lis-Maya dan Syahrul-Rahma saat menunjukkan nomor urut pasangan calon peserta Pilkada 2018. (Antaranews Kepri/Aji Anugraha)

Dari survei tersebut, kata dia dapat dilihat paparan program visi-misi hanya mempengaruhi 4,3 persen pemilih dalam menentukan pilihan politiknya, dan yang tertinggi adalah sudah dikenal dengan baik.
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Debat publik tahapan ketiga yang akan digelar oleh KPU Tanjungpinang kurang memberi efek pada elektoral, kata Direktur "Gurindam Research Centre" (GRC) Raja Dachroni.

"Berdasarkan hasil survei kami, debat publik mampu memberikan pencerdasan politik, tapi belum tentu mengubah pilihan masyarakat atau membuat masyarakat berpartisipasi pada tahapan pencoblosan 27 Juni 2018 mendatang," kata dia di Tanjungpinang, Jumat.

Menurutnya, dalam survei yang dilakukan GRC belum lama ini, terkuak landasan memilih masyarakat Kota Tanjungpinang?itu sangat sederhana.

Dalam survei yang dilakukan GRC beberapa bulan silam dengan pertanyaan apa alasan mereka memilih calon, ternyata jawaban pertama adalah sudah dikenal baik sebanyak 66,8 persen, dan?berpengalaman 12,8 persen.

Sementara visi dan misi atau program yang ditawarkan pasangan Syahrul-Rahma dan Lis Darmansyah-Maya Suryanti hanya 4,3 persen.

"Keinginan terhadap calon `independen` (perseorangan) 3,3 persen, didukung partai pilihan saya 2,8 persen, sosok orang baru menjanjikan perubahan 2,6 persen, dari kalangan generasi muda 2,0 persen, kinerja bagus 0,8 persen, tidak terlibat korupsi 0,8 persen, ganteng 0,8 persen, merakyat 0,5 persen dan lainnya 1,8 persen," paparnya.

Populasi survei ini adalah WNI yang berdomisili di Kota Tanjungpinang dan telah mempunyai hak pilih (memiliki KTP), yakni berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah ketika dilakukan survei ini.

Sampel berasal dari 4 kecamatan di Kota Tanjungpinnag yang terdistribusi secara proporsional berdasarkan besaran jumlah penduduk.

Jumlah responden dalam survei ini sebanyak 400 responden dengan proporsi (50:50) laki-laki dan perempuan. Pengambilan sampel menggunakan metode "multistage random sampling" dengan toleransi kesalahan (margin of error) sekitar 4,90 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Setiap responden terpilih dilakukan wawancara dengan metode tatap muka (face to face) oleh pewawancara yang telah dilatih.

"Dilakukan `quality control` sebanyak 20 persen dari total sampel secara random, dengan cara mendatangi kembali responden terpilih atau mengkonfirmasi ulang responden terpilih (spot check). Dalam `quality control` tidak ditemukan kesalahan," tuturnya.

Dari survei tersebut, kata dia dapat dilihat paparan program visi-misi hanya mempengaruhi 4,3 persen pemilih dalam menentukan pilihan politiknya, dan yang tertinggi adalah sudah dikenal dengan baik.

Dengan demikian, wajar kemudian para calon menggunakan strategi "door to door" atau kampanye dari rumah ke rumah dan tidak memanfaatkan kampanye terbuka. Ini dilakukan agar mereka dikenal lebih baik oleh konstituennya.

"Kendati demikian, walau tidak memberikan efek elektoral yang signifikan, debat?kandidat perlu untuk mencerdaskan masyarakat. Walau demokrasi kita sudah 20 tahun berjalan pascareformasi, masyarakat Tanjungpinang memang perlu banyak belajar dan menaikkan tingkatan atau penentuan dalam memilih. Kami berharap masyarakat kita ke depan bisa memilih karena program bukan hanya dikenal baik saja," kata Raja Dachroni.

Sementara itu, untuk partisipasi pemilih GRC memprediksi bisa mencapai 64 persen saja sudah cukup baik.

"Kalau saya perhatikan dari pertanyaan apakah masyarakat tahu akan Pemilukada Tanjungpinang 64 persen menjawab tahu. Ini sudah cukup baik walau memang tidak memenuhi target KPU Tanjungpinang yang memprediksi hingga 70 persen. Jika melihat di lapangan nanti mungkin bisa lima persen diatas 64 persen atau kurang dari lima persen atau hanya mencapai 59 persen," imbuhnya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Danna Tampi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar