Lima tahun menanti suaka

id Imigran,Pencari suaka,Unhcr

Anak-anak imigran melihat mainan yang mereka miliki di Hotel Kolekta Kota Batam Provinsi Kepri. Para imigran di Hotel Kolekta berasal dari Sudan, Afghanistan, Somalia dan Ethiophia. (Antaranews Kepri/Messa Haris)

Sesekali mereka tampak tersenyum dan coba menyapa orang-orang baru, yang masuk ke area hotel. Area penginapan yang jauh dari jalan raya membuat para bocah sangat menikmati aktivitasnya
Batam (Antaranews Kepri) - Senin (2/7), suasana di halaman Hotel Kolekta Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau tampak dipenuhi puluhan anak-anak yang riang sembari bermain. 

Ada yang menggunakan sepeda dan ada juga yang bermain kejar-kejaran di sekitar hotel. Dalam berkomunikasi mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia tapi arab.

Mereka adalah anak-anak imigran yang berasal dari Sudan, Afghanistan, Irak, Somalia dan Ethiophia.

Sesekali mereka tampak tersenyum dan coba menyapa orang-orang baru, yang masuk ke area hotel. Area penginapan yang jauh dari jalan raya membuat para bocah sangat menikmati aktivitasnya.

Ya, seorang imigran asal Sudan mengaku sudah lima tahun berada di Indonesia, tepatnya sejak 2014 lalu, dan hingga saat ini masih menunggu untuk dikirimkan ke negara ketiga. Ya bahkan masih ingat perjalanannya secara detail hingga tiba di tanah ibu pertiwi ini.

"Sebelum tiba di Indonesia dari Sudan, saya bersama rekan-rekan bertolak ke Dubai dengan menggunakan transportasi udara yang memakan waktu empat jam perjalanan," kata Ya kepada Antara di Batam, Senin.

Dari Dubai Ya mengatakan mereka bertolak ke Malaysia dan ditempuh kurang lebih sembilan jam perjalanan dengan menggunakan pesawat. Setibanya di Malaysia dan menetap beberapa hari, mereka memilih ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut.

Indonesia dipilih karena negara yang masih menerima para imigran sebelum diberangkatkan ke negara ketiga seperti Amerika, Kanada dan Australia.

"Dari Malaysia kami ke Medan (Sumatera Utara) dan di sana kami selama 10 hari," kata Ya. 

Setelah itu Ya dan rekan-rekannya menuju Jakarta dengan harapan dapat segera dikirimkan ke negara ketiga pilihannya yaitu Australia. 

Sayangnya keinginan Ya, belum bisa dipenuhi. Akhirnya Ya dan beberapa rekannya menetap di Kabupaten Bogor, Jawa Barat selama sembilan bulan. Di sana Ya sempat mendapatkan penawaran dari orang-orang yang mengaku dapat mengirimkannya ke Australia. 

Tapi lagi-lagi usahanya sia-sia.

"Mereka (yang mengaku bisa memberangkatkannya ke Australia) minta Rp35 juta, tapi waktu diperjalanan menuju Surabaya saya ditangkap polisi," ucapnya.

Akhirnya, ia pun kembali di bawa ke Bogor dan kembali masuk ke rumah detensi imigrasi (Rudemin) Bogor. 

Setelah sebulan berada di Rudemin, Ya kembali mencoba kabur dan meminta bantuan kepada orang yang dikenalnya untuk berangkat ke Australia. Namun hal itu kembali tidak terjuwud. Karena kehabisan uang dan tidak tahu harus kemana, Ya akhirnya menyerahkan diri ke kantor polisi. 

Ya mengatakan menghabiskan sekitar Rp50 juta untuk bisa sampai di Indonesia.

"Kalau dihitung dalam dolar amerika ada sekitar $4 ribuan," katanya.

"Di kantor polisi saya bilang saya ini imigran dan tidak punya apa-apa dan saya sebulan berada di kantor polisi sebelum dikirim ke Makassar," ujarnya.
Anak-anak imigran dari Sudan, Afghanistan, Somalia dan Ethiophia tampak tersenyum saat diajak berfoto bersama. (Antaranews Kepri/Messa Haris)

Belajar bahasa Indonesia
Selama berada di Rudenim di Makassar, Sulawesi Selatan, Ya berusaha untuk ikhlas dengan apa yang dijalaninya. Ia bahkan perlahan-lahan belajar berbicara dengan bahasa Indonesia.

"Kami dikirim ke Makassar tanggal 20 Juni 2014," kata dia.

Ia mengaku belajar bahasa Indonesia agar tidak kesulitan berkomunikasi dengan petugas maupun masyarakat sekitar. Sekitar tujuh bulan berada di Makassar, satu persatu kata dalam bahasa Indonesia yang dipelajarinya, disusun menjadi kalimat.

Dengan modal itu, dirinya mengatakan bisa dengan mudah mempertanyakan kapan dirinya untuk dikirim ke negara ketiga. Dengan kemampuannya itu juga, Ya yang di negaranya berprofesi sebagai guru matematika mengajari para imigran lainnya untuk berbahasa Indonesia.

"Saya punya banyak teman di Makassar," kata Ya.

Pada 20 Januari 2015, Ya ingin keluar dari Makassar dikarenakan jenuh tidak juga mendapatkan kepastian untuk diberangkatkan ke negara tujuannya. Namun langkahnya terhenti saat tim United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) memberikan kabar jika anak dan istrinya sudah tidak lagi berada di Sudan.

Kabar terakhir yang didapatnya pendampingi hidup dan sang buah hatinya menuju Indonesia untuk bertemu dengannya. Pada awal 2016, Ya mendapatkan kabar jika istrinya berada di Jakarta dan akan diberangkatkan ke Makassar. 

Saat bertemu anak dan istrinya, Ya pun tidak dapat berkata apa-apa, hanya air mata yang terus turun dari kedua kelopak matanya.

"Mei 2016 kami berkumpul di Makassar," ucapnya.

Dengan keberadaan orang yang dikasihinya itu, tekad Ya untuk menuju negara ketiga semakin kuat. Namun sayang keinginannya kembali tidak terwujud. 

Hati Ya semakin gundah saat mengetahui Rudemin Makassar menyampaikan jika sudah tidak mampu menampung para imigran. Ya akhirnya mencari informasi kota di Indonesia lainnya yang masih bersedia menerima imigran. 

"Saya dapat kabar kalau Batam masih menerima imigran, karena itu saya bersama anak dan istri ke sini sekitar Juli 2016" katanya.

Ya mengatakan jauh sebelum anak dan istrinya tiba di Indonesia, dirinya sudah pernah diwawancarai UNHCR mengenai negara ketiga yang ingin ditujunya. 

Namun kata Ya, UNHCR tidak bisa memberangkatkannya dengan alasa negara ketiga sementara waktu hanya mau menerima imigran yang kondisinya sakit.

"2014 saya sudah ditanya UNHCR tapi sampai sekarang belum diberangkatkan," tuturnya.


Diberi Rp1,250 juta
Ya mengatakan selama di Kota Batam, seluruh imigran yang ditempatkan di Hotel Kolekta diberikan uang saku untuk keperluan sehari-hari oleh International Organization for Migration (IMO) sebesar Rp1,250 juta per bulan. Rupiah tersebut kata Ya diberikan untuk orang dewasa. Sementara anak-anak Rp500 ribu per bulan. 

Ya menambahkan, dengan uang tersebut para imigran harus pandai-pandai berhemat. Bahkan terkadang hanya makan seadanya agar kantong mereka tidak cepat kosong dan bisa bertahan selama satu bulan. Terlebih untuk kebutuhan anaknya, dalam sebulan sang buah hati kata Ya, mengkonsumsi susu sekitar empat hingga lima kotak sebulan. 

"Itu belum termasuk pampersnya, jadi sebenarnya yang Rp1 juta itu untuk anak kami dan kami Rp500 ribu," kata Ya.

Ya mengatakan sudah pernah beberapa kali menyampaikan kepada UNHCR agar mereka diberikan uang lebih. Namun karena keuangan organisasi terbatas, keinginan Ya dan rekan-rekannya tidak bisa diwujudkan. 

Imigran yang ditempatkan d Hotel Kolekta Kota Batam kata Ya, ada sekitar 390 orang. Dari jumlah tersebut 80-an adalah anak-anak mulai usia satu hingga 10 tahun.

"Ada juga yang masih bayi itu umurnya satu bulan," ujarnya.

Ya mengaku sudah bosan dengan kondisi saat ini dikarenakan tidak memiliki pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Terlebih saat ini ada anak-anak mereka yang harusnya sudah sekolah, namun karena tidak ada biaya buah hati mereka hanya pendidikan seadanya di pengungsian.

"Kami di sini cuma bisa makan dan duduk-duduk, kami sudah bosan," ucapnya lirih.

Meski begitu, Ya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang sudah bersedia memberikan mereka tempat tinggal dan makanan. 

Ya berharap pemerintah Indonesia bisa menyampaikan kepada negara ketiga agar mau menerima orang-orang migran. 

"Kalau pemerintah Indonesia diam saja, kami akan semakin lama di sini. Kami berharap pemerintah Indonesia bisa meminta kepada pemerintah Australia, Amerika atau Kanada untuk menerima kami" harapnya menatap.(Antara)
Pewarta :
Editor: Danna Tampi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar