BUMN Hadir - Pahrizal siswa berprestasi wakili Lingga di SMN

id pahrizal ,siswa mengenal nusantara,lingga

Pahrizal, siswa Lingga yang terpilih mengikuti program Siswa Mengenal Nusantara 2018. (Antaranews Kepri/Nurjali)

Lingga (Antaranews Kepri) - Pahrizal merupakan remaja kelas XI SMK Negeri Singkep yang beruntung mewakili Kabupaten Lingga sebagai peserta Siswa Mengenal Nusantara, yang diselenggarakan oleh tiga BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Perusahaan persero, PT. Pelindo dan Perum LKBN Antara.

Peserta dari Kabupaten Lingga ini memiliki kisah kehidupan berbeda dari peserta dari lainnya, di balik wajahnya yang selalu ceria dirinya menanggung sekelumit kisah hidup yang tidak banyak dialami anak-anak lainnya.

Malam itu, ketika pewarta Antara menemuinya di kediamannya di salah satu lorong di jalan Sekop darat Kelurahan Dabo, Pahrizal baru saja pulang dari pertandingan bola voli yang merupakan hobi dan impiannya sejak kecil karena kebiasaan ibunya yang kini menurun kepada dirinya. Meski terlihat lelah usai bertanding, namun tidak sedikitpun dirinya memperlihatkan kalau dirinya sedang lelah berolahraga.

Usai melaksanakan ibadah shalat Magrib, Pahrizal pun bercerita tentang berbagai prestasi dan latar belakang hidupnya, sejak masuk ke Sekolah Dasar Pahrizal yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara ini, tidak lagi ditemani oleh sosok seorang ayah karna ayah dan Ibunya sudah lama bercerai. Meski begitu Pahrizal mengaku sempat mendapatkan kehangatan dan kasih sayang dari ayahnya, sebelum ayahnya pergi meninggalkan dirinya kakaknya dan adiknya yang saat ini sedang duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.

"Saya sempat dibawa ayah ke Medan, kampung ayah, tapi setelah itu kembali lagi ke Batam sebelum akhirnya bersekolah di Dabosingkep," ujarnya.

Meski sempat dilahirkan di Dabosingkep Pahrizal dibawa Ibunya merantau ke Kota Batam, dan diusia enam tahun dibawa kembali untuk bersekolah di Dabosingkep.

Dia kini tinggal bersama kakaknya dan adiknya, mereka bertiga terlihat sangat kompak, di rumah tersebut juga ada bibi Pahrizal dan kakeknya bersama satu orang sepupunya. Di rumah berdinding papan milik kakeknya tersebutlah Pahrizal mengukir prestasi belajar, dengan selalu mendapatkan peringkat satu di kelasnya, mata pelajaran yang paling disenanginya adalah Matematika pelajaran yang selalu ditakuti sebagian anak.

Ibu Pahrizal beberapa bulan belakangan ini tidak lagi bersamanya, karena mengikuti suami barunya yang tinggal di salah satu pulau yang cukup jauh. Kehidupan Pahrizal cukup sederhana, meski tak pernah memiliki uang jajan setiap ke sekolah, Pahrizal mengaku selalu memiliki banyak akal supaya dapat jajanan gratis. Waktu SMP, dia selalu membantu Ibu kantin, supaya dapat jajanan gratis dan ketika SMK ini dirinya selalu mencari pekerjaan sampingan namun yang tidak menganggu kegiatan sekolahnya.

Dari Sekolah Dasar hingga SMK ini, Pahrizal selalu mendapatkan rangking satu di sekolahnya, bahkan sewaktu SMP dirinya menjadi langganan juara umum di sekolahnya. Pahrizal cukup aktif diberbagai kegiatan Ekstrakurikuler di sekolahnya, dan yang paling dicintainya adalah ekstrakurikuler Pramuka karena sejak kecil cita-cita Pahrizal adalah menjadi seorang tentara.

"Waktu SMP saya ikut Satuan Karya Pramuka Bahari, padahal isinya waktu itu anak SMA/SMK tapi saya senang bisa diajar seorang tentara," ungkapnya.

Di malam itu yang hening itu, Pahrizal terus saja membicarakan pengalamannya, ketika akan masuk sekolah SMK karena khawatir kekurangan biaya masuk sekolah, Pahrizal pernah menjadi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Motor Jambi-Dabosingkep dengan bermalam-malam di laut, tapi dia tak menghiraukan itu demi mendapatkan uang satu tripnya Rp 400.000 rupiah uang itu sangat besar baginya, meskipun belum cukup untuk biaya masuk sekolah.

Berbagai pengalamannya di jalanan dan mengarungi laut Pahrizal memiliki mental dan iman yang cukup mumpuni bagi anak seusianya, dirinya tidak pernah meninggalkan ibadah shalat dan dengan wajah polos dirinya menceritakan dari lima waktu shalat hanya satu ibadah sholat yang sering ditinggalnya yaitu saat masuk Shalat Ashar, karena pada jam-jam tersebut dirinya sering disibukan dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang membuatnya kelelahan.

"Bangun pagi saya shalat subuh dan membantu tetangga membersihkan halaman rumahnya dan menyiram bunga, tapi akhir-akhir ini saya sibuk banyak kegiatan sehingga tidak sempat membantu tetangga," sebutnya.

Pahrizal sadar bahwa dirinya bukanlah terlahir dari keluarga yang mapan, sehingga tidak jarang dirinya selalu menyisihkan uang yang didapatnya dari berbagai kegiatan yang diikutinya untuk membeli kebutuhan sekolahnya. Ponsel Pahrizal tidaklah semegah ponsel-ponsel temannya, namun baginya itu sudah sangat cukup untuk mengimbangi teman-temannya bisa menelepon dan bisa whatsapps. Bahkan ponsel itu dapat dibelinya setelah mendapat uang sumbangan sebagai anak yatim, karena dirinya terdaftar di panti asuhan.

"Ponsel ini cukup buat whatsapps karena saya jarang beli paket, sekarang hampir semua anak-anak pakai whats up jadi saya takut ketinggalan informasi," sebutnya.

Cita-cita Pahrizal saat ini adalah memiliki satu unit laptop meskipun bukan yang baru, yang penting dapat digunakannya untuk mendukung kegiatan belajarnya di sekolah. Pahrizal mengambil jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan) di SMK Negeri 1 Singkep, dengan harapan setelah sekolah dirinya bisa bekerja sambil menggapai cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan atau mengikuti tes tentara.

Pahrizal adalah anak yang tidak mudah menyerah dan memiliki tekad dan cita-cita yang tinggi, meskipun tidak terlahir dari keluarga yang mapan. Bahkan dirinya mengaku sempat terancam gagal mengikuti tes SMN oleh tiga BUMN tersebut, karena setibanya di Pelabuhan ternyat berkasnya ketinggalan tapi dirinya memiliki keyakinan bahwa hari itu akan tetap berangkat, sehingga Pahrizal terpaksa ditinggal guru pembimbingnya karna waktu keberangkatan kapal.

Kakak Pahrizal yang selalu mendukung kegiatan adiknya waktu itu yang mengantarkan berkasnya yang tertinggal, dengan ongkos yang pas-pasan Pahrizal nekad menaiki kapal tujuan Batam yang harganya lebih tinggi dari kapal ke Tanjungpinang, karena saat itu kapal tujuan Tanjungpinang sudah berangkat semuanya. 

"Saya harus berpuasa di jalan karena ongkosnya pas-pasan, tapi soal menahan lapar itu bukan hal yang aneh bagi saya, sudah sering berpuasa bahkan waktu bekerja di kapal motor dirinya berpuasa," kisahnya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar