Pemda diminta libatkan BUMD untuk kendalikan inflasi

id Atasi inflasi,Inflasi batam

Petani di Kabupaten Bintan, Kepri tengah bercocok tanam. Kehadiran BUMD dalam perdagangan beras akan berdampak terhadap kesejahteraan petani dan menurunkan harga eceran di konsumen. (Ogen)

Tanjungpinang (ANTARA) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Fadjar Majardi, menawarkan Pemprov Kepri sebuah solusi jangka panjang untuk mengendalikan inflasi dan kenaikan harga bahan pokok di masyarakat dengan melibatkan BUMD.

"Sistem efisiensi rantai dagang pangan strategis yang ditawarkan ini akan menempatkan BUMD menjadi pemain utama dalam perdagangan kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat," kata Fadjar di Tanjungpinang, Kepri, Kamis.

Lanjut Fadjar, jika pada rantai dagang konvensional jalur distribusinya dimulai dari petani, diserahkan ke pengepul, ditampung di pedagang besar, ke pedagang hilir, kemudian didistribusikan ke pedagang eceran hingga ke konsumen, maka pada sistem ini BUMD akan hadir dan memotong semua rantai perjalanan barang tersebut.

Sehingga, kata dia, barang dari petani langsung dibeli oleh BUMD dan pendistribusiannya langsung ke konsumen.

“Ini tentunya lebih murah karena memotong rantai distribusi yang panjang. Petani juga diuntungkan karena akan dibeli sedikit lebih tinggi dari harga biasa serta konsumen akan mendapatkan harga yang lebih murah," imbuhnya.

Menurutnya, kehadiran BUMD pada sistem ini pastinya tidak akan mematikan pedagang yang telah ada, karena komoditas yang dijual adalah komoditas yang strategis, di mana pemerintah hadir di pasar untuk menjaga kestabilan harga.

Sementara itu Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri, Zulkifli, menyatakan pihaknya harus bekerja keras mengendalikan inflasi di Kepri karena sudah dipastikan akan terjadi kenaikan harga dan inflasi pada bulan Mei dan Juni 2019, sebab memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran.

Dari data BPS sementara, April dan Mei ini beberapa bahan makanan telah menunjukkan gejala kenaikan yang signifikan, begitu juga emas, mobil dan motor juga ikut naik sehingga pada triwulan pertama ini inflasi yang terjadi di Batam sebesar 0.33% dan Tanjungpinang 0.22%.

"Tapi Secara keseluruhan di Kepri pada awal tahun ini, dapat disimpulkan inflasi masih sangat rendah dan relatif masih bisa dikendalikan,” ujarnya.
 
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar