Kisah sederhana IPDA Missyamsu Alson

id tambelan, kapolsek,alson

Kisah sederhana  IPDA Missyamsu Alson

IPDA Missyamsu Alson bersalaman dengan nelayan di Tambelan. Mantan Kapolsek Tambelan tersebut memberikan bantuan life jacket kepada nelayan untuk menghadapi kondisi cuaca buruk ketika melaut. Foto Antara/Saud Mc Kashmir

Tambelan (ANTARA) - Kapolsek Tambelan, IPDA Missyamsu Alson dikenal sebagai sosok polisi yang mudah bergaul dan memiliki banyak sahabat.

Berasal dari keluarga sederhana, Alson merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara yang merupakan putra dari Alm Syamsir bersama ibu Hj Hanimah.

Lahir di Pekanbaru, 14 Mei 1971, Alson sudah terbiasa dengan kehidupan mandiri. 

Kemandiriannya tergambar ketika alumni tahun 1984 SD Negeri 037 Simpang Tiga tersebut diberi tanggungjawab mengurus kedua adiknya di saat kakaknya meniti kuliah di Pekanbaru. Sementara ayahnya bertugas sebagai Kepala SDN 055 Rengat Kabupaten Indragirihulu, dan Hj Hanimah sebagai Kepala SDN 056 di Rengat.

Alson yang saat itu tengah menjalani pendidikan SMP Negeri 1 Rengat mesti bangun subuh untuk menyiapkan makanan buat sarapan 2 adiknya yang masih SD. 

Hal itu ia lakukan mengingat sarapan menjadi kebiasaan keluarga guru tersebut. Selain itu, jarak rumah ke sekolah sekitar 50 km membuatnya mesti bangun lebih awal.

"Jadi satu sepeda itu kami tarik tiga, saya antar mereka dulu, barulah setelah itu saya menuju ke SMP," kata Alumni SMP N 1 Rengat 1987 tersebut.

Tugas orang tua sebagai seorang kepala sekolah membuat waktu berkumpul bersama sangat terbatas.

"Orang tua pulang ke rumah seminggu sekali, kadang Sabtu sore, kemudian Senin pagi pergi lagi ngajar," ujarnya.

Menghadapi kondisi seperti itu, Alson berprinsip bahwa kehidupan harus dijalani, yang jelas, jika sukses, ia tidak ingin sukses sendiri. Melainkan, harus sukses bersama-sama dengan adiknya. 

Prinsip itu yang membuat Alson seolah menjadi  guru di rumah bagi adik-adiknya.

"Orang tua juga berpesan bahwa belajar adalah kunci agar bisa menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara," ujar penikmat kopi tersebut.

Kata yang terucap dari ibu membuat Alson bercermin pada prestasi sang kakak yang selalu mendapatkan juara umum ketika sekolah.

Motivasi tersebut membuat Alson semakin bersemangat untuk bertanggungjawab terhadap saudara kandungnya dan menyelesaikan pendidikan.

Semasa sekolah, Alson mengaku siswa yang tergolong nakal. Ada kejadian lucu yang ia ingat  ketika mendapat surat panggilan untuk orang tuanya dari pihak SMA.

Karena takut dengan ayah dan ibunya, Alson meminta bantuan tetangga untuk menyamar menjadi wali dan menunaikan surat panggilan tersebut.

"Orang tua saya keras dalam mendidik kami, sehingga kami sangat patuh, tapi bagaimana pun kerasnya didikan orang tua, banyak kisah kenangan yang saya rindukan bersama ayah dan ibu," ujar Alson.

Menjadi seorang polisi dimulai ketika Alson tamat SMA N Simpang Tiga pada 1990.

Selesai dari SMA, Alson yang sempat jadi pengangguran ikut pindah bersama kedua orangtuanya ke Pekanbaru.

"Sempat nganggur, kemudian orang tua pindah ke Pekanbaru. Di sana saya bekerja menjadi security perkebunan sawit," imbuhnya.

Hampir setahun menjadi satpam, ia mencoba ikut peluang penerimaan Tamtama TNI pada 1991.  Meskipun harus menerima kecewa bahwa ia dinyatakan tidak lulus.

"Teman saya lulus, saya tak lulus. Malu rasanya. Sebab itu, saya memutuskan untuk merantau ke Bengkalis, Dumai, Jambi," kata Alson.

Delapan bulan lamanya ia menghilang dari keluarga, Alson kembali pulang ke rumah pada 1992. Tapi, kembalinya ke rumah tidak membuat rasa kecewa gagal menjadi prajurit TNI menghilang begitu saja.

Pada akhirnya, ia mendapat banyak nasehat dari 3 anak angkat ibunya. 

Meskipun awalnya Alson sempat menolak menjadi polisi. Tetapi bagi Alson, 3 anak angkat ibunya tersebut lah yang telah memotivasi. Mereka adalah AKP Karnen, AKP Hidayat, dan AIPTU Martabone.

Pada Juli 1992, Alson mendaftar menjadi Bintara Polri, kemudian lulus menjadi Polri dengan mengikuti Sekolah Polisi Negara (SPN) di Pekanbaru selama 11 bulan pada Juni 1993.

Setelah resmi dilantik menjadi Polri, Alson dan rekannya dianggap kurang disiplin. Maka, mereka  kembali menjalani pemantapan pendidikan Brimob selama 3 minggu di Polda Riau.

"Angkatan kami ini lah yang dikenal dengan istilah Pratap Brimob atau Pratap 1992-1993," tegasnya.

Betapa terharunya sang ibu melihat putra ke-2 nya dapat menyelesaikan pendidikan polisi dengan menyandang Sersan Dua sederajat dengan Bripda.

Hj Hanimah berpesan agar Alson mesti bersungguh-sungguh dalam mengemban tugas sebagai Polri. Bahkan, Alm Syamsir sempat bernazar dan menunaikannya ketika Alson menjadi polisi.

Haru dan syukur kedua orang tua membuat Alson bertekat serius menjalankan setiap tugasnya. 

Masuk 1993-1994, Penugasan pertama di Tanjungpinang atau Polres Kepri Timur sebagai Sabara.

Selanjutnya, Alson rotasi sebagai Bintara Polsek Tambelan pada 1994-1997 pindah ke Tambelan. 

Meski tidak tau tentang Tambelan, tapi tugas tetap dia lakukan. Bahkan, Alson pun terkenang yang namanya  kapal perintis.

"Waktu itu, untuk mencapai Tanjungpinang ke Tambelan kami menggunakan kapal perintis yang perjalanannya sekitar 26-30 jam," ujarnya.

Perjumpaan dengan Ny Marniati memiliki kisah menarik tersendiri bagi Alson.

Semua berawal ketika Alson piket di Polres Kepri Timur yang sekarang dikenal Polres Tanjungpinang. Sementara Ny Marniati masih sebagai pelajar di SMEA Pembangunan yang sekarang menjadi kampus STIE.

Terminal terakhir Tanjungpinang kala itu berada di Polres, tepatnya berada di Pos Piket Polres Tanjungpinang saat ini.

"Sehingga, kami sering jumpa, apalagi kalau saya sedang piket, saya sering godain dia ketika turun dari angkot," ujar Alson terbahak-bahak.

Hingga bertugasnya Alson ke Tambelan untuk pertama kali, ia juga sempat berjumpa dengan Ny Marniati di negeri Sabda Bertuah tersebut.

Setahun kembalinya Alson dari Tambelan ke Polres Kepri Timur dengan menyandang Sertu atau setingkat Briptu, Alson pun menikahi Marniati pada 1998.

Dalam dunia kepolisian, ayah dari 4 orang anak ini mengaku sebagian besar kariernya berasal dari Reskrim.

Berbagai kasus kriminal pernah diungkapnya mulai kriminal ringan hingga pengungkapan kasus pembunuhan langka yang diselesaikannya selama 1 bulan.

Mantan Kanit Reskrim Polsek Tanjungpinang Timur itu akhirnya melanjutkan pendidikan sekolah alih golongan pada 2017.


Bertugas lagi Tambelan 

Pasca pendidikan tersebut, Alson yang sebelumnya Bintara tinggi beralih ke perwira dengan pangkat IPDA. Tak lama bertugas di Polsek Bukit Bestari Tanjungpinang 2017 lalu, Alson pun kembali ke Polsek Tambelan pada 2018.

Awal menjabat Kapolsek Tambelan, Alson melihat banyak yang harus dibenahi.

Hal pertama yang menjadi perhatiannya adalah kedisiplinan.

"Bukan berarti jauh dari polres, kedisiplinan sebagai anggota juga berkurang. Justru kita harus lebih disiplin, karena kunci dalam pelaksanaan tugas berawal dari disiplin," ujarnya.

Oleh karena itu, Alson coba mendisiplinkan personil Polsek Tambelan. Mulai dari mengontrol kegiatan internal maupun kegiatan personil di tengah masyarakat.

Bagi Alson, kedisiplinan Polri tidak hanya mencakup intern secara instansi, melainkan harus menjadi contoh di tengah masyarakat.

Selanjutnya, masalah jaringan internet menjadi kendala bagi Alson ketika bertugas di Tambelan. 

Meski sempat menumpang di instansi lain seperti sekolah, kantor desa dan sebagainya yang memiliki jaringan internet. Tapi, Alson bersikeras mencari solusi untuk mengatasi hambatan tersebut.

"Alhamdulillah Polsek Tambelan mendapat bantuan perangkat internet dari Mabes Polri pada 2020 dan bisa bermanfaat sampai sekarang," katanya.

Bahkan, wifi yang berasal dari pengoperasian perangkat Mabes Polri itu diberikan manfaat lebih kepada masyarakat. Yaitu dengan menyediakan wifi gratis kepada pelajar dan mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran daring di tengah masa pandemi Covid 19.

Dia juga selalu menggaungkan program wifi gratis tersebut  di setiap sosialisasi ke sekolah dan masyarakat.

"Saya sangat senang karena wifi dari Mabes Polri ini dapat membantu masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa yang untuk mengikuti pembelajaran daring," ujarnya.

Kemudian tantangan pengungkapan kasus ilegal fishing menggunakan bom ikan di pulau sekitar Tambelan.

Kendala jarak tempuh dari Tambelan menuju pulau terbilang cukup jauh yakni sekitar 5 jam perjalanan laut.

Meski hanya menggunakan kapal nelayan, dan jumlah personil yang terbatas, tapi sejumlah kasus bom ikan berhasil diungkap di bawah komando IPDA Missyamsu Alson pada perkara pertama tahun 2019, dan 2020.

"Berkat kerjasama yang baik antara polisi dan masyarakat, khususnya masyarakat Pulau Mentebung sehingga kami bisa menangkap pelaku pengeboman ikan," tuturnya.

Pengungkapan dua kasus ilegal fishing tersebut berhasil mendapatkan penghargaan dari AKBP Boy Herlambang sebagai Kapolres Bintan pada masa itu.

"Mengingat Tambelan terdiri dari pulau-pulau kecil, Polsek Tambelan mendapatkan bantuan speedboat bermesin 85PK dari Polres Bintan," tegasnya.

Bangun Asrama

Di akhir masa jabatannya sebagai Kapolsek Tambelan, Alson sempat memikirkan pembangunan asrama bagi anggota polsek yang bertugas.

Gagasan itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kondisi di personil di Tambelan.

"Saya kasihan melihat anggota Polsek Tambelan mesti menumpang di pemukiman masyarakat, khususnya yang tidak memiliki keluarga di Tambelan. Sebab itu, saya  berinisiatif membangun asrama buat anggota Polsek Tambelan,"tuturnya.

Asrama yang dibangun IPDA Missyamsu Alson tersebut dilakukan mulai dari membongkar bangunan lama, hingga menyiapkan pondasi beton yang baru.

Akan tetapi, rotasi jabatan pada 5 Maret 2021 membuat Alson tidak bisa melanjutkan asrama polsek tersebut. Padahal, sejumlah material sudah disiapkan untuk merampungkan asrama.

Alson yang kini menjabat Kasubag Humas Polres Bintan turut sedih karena tidak bisa menyelesaikan asrama tersebut.

 "Pondasi beton sudah siap, tinggal mendirikan bangunannya, saya berharap asrama ini bisa dilanjutkan dan dirampungkan agar bisa bermanfaat," ujarnya.

IPDA Missyamsu Alson juga terkenal akrab dengan insan pers. Hal ini tampak ketika ia menjabat sebagai Kapolsek di Tambelan.

Alson sering kali memberitakan kejadian atau kegiatannya di kecamatan terjauh dari Bintan tersebut.

Ia juga menyempatkan diri menjadi ayah angkat komunitas jurnalis pelajar Parasnews di Tambelan.

Para jurnalis Parasnews selalu ia libatkan dalam kegiatan kepolisian. Mulai dari sosialisasi, membuat sejumlah film pendek seputar Covid-19, spanduk imbauan, family gatering ke pulau terdekat, perayaan HUT Bhayangkara, pembagian life jacket untuk nelayan, peringatan HUT TNI, Halal Bi Halal Kelurga Tambelan, sosialisasi wifi gratis, rehab rumah pasca banjir 2019, Operasi Ketupat, Operasi Lilin Seligi, dan lain sebagainya.

"Jurnalis pelajar Parasnews ini sangat bagus karena para pelajar di komunitas tersebut minimal mendapatkan ilmu dan dapat mengangkat Tambelan agar lebih dikenal," tuturnya.

Alson yang hobi berburu itu juga sering kali memberikan dukungan materi dan moril kepada jurnalis pelajar. Bahkan memberikan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi kemitraan Polri dan pers.

Tidak jarang, setiap jurnalis Parasnews merindukan kegiatan bersamanya.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar