Kini rumput laut yang jadi gantungan hidup warga Pulau Mat Belanda

id pulau amat belanda, batam, lokalisasi, rumput laut

Kini rumput laut  yang jadi gantungan hidup warga Pulau Mat Belanda

Warga sedang mengangkut rumput laut yang telah dijemur. Foto Antara Kepri/Arfan NK.

Batam (ANTARA) - Bagi sebagian warga Batam atau pengelana dari negeri jiran  yang memiliki minat hiburan duniawi, menyebut nama Pulau Amat Belanda maka yang terekam dalam pikiran adalah pulau kecil yang penuh glamour di perairan Belakang Padang.

Puluhan tahun lalu, pulau yang berhadapan dengan Singapura di wilayah Kecamatan Belakang Padang itu merupakan pusat hiburan surga dunia yang selalu ramai baik siang  maupun malam.

Jejak masa lalu Pulau Amat Belanda masih dapat dijumpai hingga kini tidak hanya bangunan bekas rumah makan, klab malam tapi juga deretan kamar yang dulu jadi lokalisasi.

Nah, pulau tersebut kini telah ditinggalkan para  “penghuni lama” menyusul berpindahnya keindahan duniawi di bagian lain di Kota Batam.

Kalau dulu warga pulau tersebut mengantungkan hidup dari para pengunjung tapi kini mereka bangkit dan mengusahakan sendiri hasil laut yang melimpah di perairan pulau.

Pulau Amat Belanda yang disebut juga sebagai Pulau Babi, merupakan surga hiburan pada tahun 1990-an hingga tahun 2000-an. Apalagi, letak Pulau Amat Belanda berhadapan  Singapura.

Ketua RT 003/RW 004 Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakang Padang, Cala bin Sajan mengatakan, sebutan Pulau Babi itu dikarenakan dulunya ada yang memelihara babi.

"Dulunya ada yang memelihara babi disini, jadi disebutlah Pulau Babi. Namun, sekarang tidak ada lagi dan saat ini nama sahnya Pulau Amat Belanda," ucapnya.

Cala melanjutkan, nama Pulau Amat Belanda diambil dari nama seseorang yang telah lama menetap.

"Jadi nama Pulau Amat Belanda itu diambil dari nama orang lama yang ada disini, namanya Amat dan mirip sekali dengan orang Belanda. Jadi diresmikanlah nama Pulau ini menjadi Pulau Amat Belanda," lanjutnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Pulau Amat Belanda, Edy mengatakan, dulunya sangat mudah untuk mencari uang di pulau kecil itu.

"Pada tahun 1990-an paling enak cari duit disini, semua usaha maju dan banyak yang belanja menggunakan dolar. Namun, pada tahun 2000-an mulai melarat," katanya.

Menurut Edy, menurunnya ekonomi Pulau Amat Belanda pada tahun 2000-an, dikarenakan tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Amat Belanda.

"Orang dari Singapura, Malaysia itu ke sini untuk bersenang-senang, nyantai, nyari hidangan laut segar dan masih banyak lainnya. Orang  luar itu juga taunya Pulau Amat Belanda ketimbang Batam, jadi lebih populer pulau ini dulunya," ucapnya.

Edy juga mengungkapkan, bahwa surga hiburan sudah tidak ada lagi di Pulau Amat Belanda.

"Tahun 2000-an sudah mulai tidak ada, sudah mulai berkurang satu persatu. Ekonomi pun ikut menurun," ungkapnya.

Edy mengatakan, meskipun ekonomi Pulau Amat Belanda menurun selama belasan tahun, kini masyarakat Pulau Amat Belanda tengah bertahan hidup dengan rumput laut dan mencari ikan.

"Selama belasan tahun tidak ada penghasilan, banyak yang pindah ke tempat lain untuk mencari uang. Sekarang alhamdulillah ada penghasilan dari rumput laut, itulah pengagasnya pak Azhari," katanya.

Sementara itu, Ketua DPD Pospera Kepri, Azhari mengatakan, dirinya merasa tertantang dengan kondisi Pulau Amat Belanda.

Menurutnya, ekonomi di Pulau Amat Belanda dulunya sangat wah. Tetapi, selama belasan tahun tiba-tiba terpuruk, hampir 96 persen warga Pulau Amat Belanda tidak berpenghasilan tetap.

"Kita ketemu tantangannya, yaitu 96 persen warga tidak berpenghasilan tetap. Kita turun empat bulan survei apa yang bisa dikerjakan warga. Sampai akhirnya ketemu dengan Sargassum (salah satu jenis rumput laut)," ucapnya.

Siapa sangka, rumput laut yang dulunya dianggap sampah oleh masyarakat sekitar kini sangat bernilai.

Dirinya mengatakan, saat ini satu keluarga di Pulau Amat Belanda dapat mengambil rumput laut 100 sampai 200 kilogram perhari, tergantung kendaraannya untuk mengambil ke laut.

"Satu kilogramnya itu Rp1.300, kalau mereka dapat saja 100 atau 200 kilogram per hari, satu bulannya dapat berapa coba? Alhamdulillah yang dulunya 96 persen tidak berpenghasilan tetap, saat ini mempunyai penghasilan di atas UMK," katanya.

Azhari mengatakan, hasil yang didapatkan para nelayan rumput laut, nantinya akan diekspor ke luar negeri.

"Setelah melalui proses pengeringan, rumput laut nantinya dikirim ke luar negeri seperti China, Vietnam dan masih banyak lainnya. Sekali ngirim bisa sampai puluhan ton," ucapnya.

Azhari juga mengungkapkan, bahwa masih banyak rumput laut yang bisa diambil. 

Tidak hanya itu, menurutnya Pulau Amat Belanda juga berpotensi menjadi daerah pariwisata.

Untuk ke Pulau Amat Belanda, masyarakat bisa dari Pelabuhan Pancung Sekupang, Batam, atau dari Belakang Padang.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar