Dirjen: 1.090 warga binaan Lapas Palu belum kembali

id warga binaan,lapas palu,pelatihan,kapasitas,batam,gempa,palu

ILustrasi: Aktivitas sejumlah warga binaan di Lapas kelas II Barelang Kota Batam. (Antaranews Kepri/Pradanna Putra)

Sampai kami normal dulu, ada air, listrik, baru kita minta mereka untuk kembali
Batam (Antara) - Sekitar 1.090 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Palu, Sulawesi Tengah, yang keluar tahanan pascagempa dan tsunami, hingga kini belum kembali, kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami di Batam, Kepulauan Riau, Selasa.

Ia mengatakan dari seluruh warga binaan, tercatat 204 orang masih bertahan di dalam, sebanyak 360 orang sudah melapor dan 1.090 masih di luar.

Ditjen Pemasyarakatan belum akan melakukan pencarian terhadap warga binaan yang masih belum diketahui keberadaannya.

"Sampai kami normal dulu, ada air, listrik, baru kita minta mereka untuk kembali," kata dia.

Ia mengatakan pihaknya harus memastikan dapat memberikan pelayanan dasar kepada warga binaan terlebih dulu sebelum mengumpulkan kembali warga binaan. Karena hingga kini, pasokan listrik, air dan makanan belum normal.

Mitra penyedia barang dan bahan makanan juga belum dapat memberikan jawaban mengenai jaminan kelancaran pasokan di sana.

Ditanya mengenai rencana rehabilitasi bangunan di lapas, ia mengatakan sudah diusulkan kepada pemerintah, namun agaknya tidak bisa tahun ini.

"Karena sekarang sudah Oktober, seluruh proses sudah berjalan, tinggal berjuang perbaikan seadanya," kata dia.

Semestinya, sejumlah warga binaan Lapas Palu ikut dalam program pelatihan peningkatan kapasitas yang dilaksanakan Ditjen Pemasyarakatan bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang dibuka hari ini.

Namun, karena kondisi tidak memungkinkan, pelaksanaan pelatihan lengkap dengan sertifikasi bidang konstruksi untuk warga binaan Lapas Palu terpaksa ditunda.

Sementara itu, bangunan Lapas di Lombok, menurut dia masih bisa digunakan pascagempa menerjang Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu.

"Kalau Lombok hanya retak," kata dia.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar