Suharmis, 22 tahun kenalkan Tuhan kepada Suku Laut

id Profil

Suharmis (Antaranews Kepri/Nurjali)

Lingga (Antaranews Kepri) - Suharmis (60) pria asal Riau daratan ini adalah penunjuk jalan menuju Tuhan bagi masyarakat asli tempatan  atau yang lazim disebut  Suku Laut, di wilayah Lingga dan Senayang selama kurang lebih 22 tahun. 

"Saya masuk kesini tahun 1996, dan niat awalnya bukan untuk menetap di Lingga tapi ingin menuju ke Bangka Belitung," cerita Suharmis, kepada Antara, Selasa.

Suharmis menceritakan panjang lebar, awal mulanya masuk ke Pulau Lingga dan berkenalan dengan warga suku laut. Awal bermulanya perkenalan tersebut di suatu pulau di Lingga tepatnya di Tanjung Nyang Lingga, saat itu dirinya mengaku akan melakukan perjalanan ke Bangka Belitung melalui pulau Lingga karna lebih dekat dan mudah dijangkau jika melalui jalan laut. 

Diperjalanan tersebut Suharmis bertemu dengan salah satu masyarakat Suku Laut, ketika sedang mengambil air minum disalah satu Surau di Tanjungnyang. Melihat perilaku dirinya yang sedang beribadah sholat, warga tersebut sempat berbincang bertanya-tanya tentang agama. Tanpa banyak basa basi salah satu sikap masyarakat tempatan ini, langsung menyatakan ingin belajar agama dengan dirinya.

"Saya sempat ragu dan harus berfikir satu minggu, baru dapat memutuskan dan membatalkan perjalanan saya ke Babel," sebutnya.

Bahkan diakuinya sempat berfikir apa yang harus dikerjakannya di tempat tersebut, karena dirinya tidak memiliki keahlian untuk kelaut. Namun karena tekad iman yang kuat, hal tersebut membuatnya berfikir bahwa segala sesuatu termasuk rezeki sudah diatur oleh Yang maha kuasa. Dengan tekad tersebutlah dirinya, bersedia untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat.

Ada 23 Kepala Keluarga awalnya yang dipandu olehnya, masyrakat tempatan ini benar-benar tidak memiliki kepercayaan agama apapun dan mereka hanya menghitung segala sesuatu berdasarkan firasat dan kondisi alam sekitar. Selain tidak memiliki agama apapun masyarakat setempat juga tidak bisa membaca dan menulis, hal ini juga membuatnya untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada masyarakat setempat.

Setelah beberapa tahun menjadi relawan pengajar tanpa gaji dan tunjangan, dirinya berfikir untuk membangun sanggar atau bangunan yang dapat dijadikan tempat ibadah, dan tempat berkumpul masyarakat setempat namun keinginannya tersebut tidak mudah untuk terwujud. Bahkan ketika mencoba saran salah satu dari rekannya dikampung, untuk mengajukan proposal ke pemerintah daerah juga tidak mendapat respon yang baik.

"Jangankan dapat respon positif, saya malah dapat kata-kata kasar dari pemerintah karena mungkin gaya saya memang bukan gaya orang kantoran pakai sendal," sebutnya sembari mengenang masa lalunya.

Setelah enam tahun di Tanjung Nyang, dirinya kembali mendapat tawaran di pulau lainnya di wilayah Senayang yaitu Kojang Desa Penaah disana juga mirip dengan warga suku laut dipulau sebelumnya, mereka tidak memiliki Agama sama ada 13 kepala keluarga yang diajarkannya kala itu selama kurang lebih dua tahun.

Kemudian Suharmis terus berpindah-pindah dari satu pulau ke pulaun lainnya yang dihuni oleh suku laut, dan perpindahannya tersebut bukan atas keinginannya sendiri melainkan ajakan dari masyarakat suku laut yang datang kepadanya melalui kepala suku mereka untuk mengajar di pulau-pulau mereka.

"Mereka itu kalau belajar serius, jadi kita tidak bisa kalau tidak menetap, jadi saya itu ada yang dua tahun, tiga tahun dan sampai sekarang masih berhubungan dengan mereka semua kalau ada nikahan atau hajatan saya tetap harus pergi kepulau-pulau itu," ceritanya.

Salah satu rekan wartawan dari media lokal yang bertugas di Lingga Muhammad Rais mengatakan, Suharmis tersebut sudah cukup lama dikenal di wilayah Senayang, namun dirinya memang berbeda dengan aktifis lainnya sangat sulit untuk diajak berbincang apalagi cara berfikirnya juga masih belum terlalu memahami perkembangan saat ini. Namun apapun itu menurutnya sosok Suharmis sangat menjadi teladan bagi masyarakat suku laut, meski tidak berpakaian ala ustad tapi dirinya sudah banyak sekali mengajar agama dan pengetahuan kepada masyarakat suku laut.

"Dari dulu kerjaannya hanya berjualan kue dan nasi dagang, bahkan saya pernah bertemu dia jualan kue kalau tidak habis kue dan nasi dagangnya dibagi-bagikan ke masyarakat," sebutnya.
Pewarta :
Editor: Joko Sulistyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar